Terrible Accident
Posted in Tak Berkategori on Nopember 2nd, 2010 and“Forget it, Sirius! Aku tak setuju. Aku benar-benar menentangnya.” Tampang Remus menyiratkan kegelisahan. Dia dikelilingi oleh para sahabatnya di kamar tidur mereka. Sirius yang tadinya duduk di jendela menatap ke luar langsung mengalihkan kepalanya ke arah Remus,
“Bahan-bahan ramuanmu mendadak menghilang, Weez enggan mengembalikan Peta Perampok dan mengancam akan menyerahkan benda itu ke McGonagal. What choices do we have?” Tanya Sirius datar.
“Aku bisa melakukannya sendiri, Sirius. Yeah, aku lebih baik begitu daripada membuat kalian semua dalam bahaya.” Jawab Remus. Matanya beralih memandang Sirius, James dan Peter berganti-gantian. Seolah meminta dukungan atas saran yang diajukannya. Tapi Remus harus kecewa. Setelah kalimatnya selesai, James angkat bicara,
“I… would… not… let… that… happen!”
“Guys, it’s illegal, ok? And we are not…” Remus masih berusaha meyakinkan sahabat-sahabatnya.
“Oh, shut up, Remus! Let us handle it…”kata Peter sambil menguap lebar dan berjalan ke tempat tidurnya. “Sirius dan James kan murid terpintar di angkatan kita. Dan selama ini mereka terus mengawasi latihanku.”
Sambil mendengarkan Peter berbicara, Sirius dan James juga melangkah ke tempat tidur masing-masing. Wajah Remus masih ditutupi kegelisahan.
“Peter, ini bukan seperti hal yang biasa James lakukan untuk mencari perhatian Lily…”
“Good night, Remus.” Ujar Peter, Sirius dan James berbarengan.
Dari balik pintu kamar mereka, Weez berpikir keras tentang apa yang baru saja didengarnya secara sembunyi-sembunyi. Para anak lelaki itu merencanakan sesuatu yang serius, sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang illegal. Dia sudah curiga saat tadi Remus meminta kembali Peta Perampok yang dipinjamnya. Pasti ada hubungannya dengan malam bulan purnama penuh minggu depan. Weez ingin sekali langsung memberi tahu Ika. Tapi dia enggan membayangkan harus menaiki tangga spiral 5 lantai untuk mencapai menara Ravenclaw.
*******************************
Hogsmeade selalu sangat ramai pada akhir minggu. Apalagi Three Broomstick, tempat Hestia, Ika dan Weez dengan santainya bergosip dan curhat sambil minum-minum. Biasanya mereka akan setia menunggu sampai mereka bisa duduk di dalamnya. Tapi kali ini ketiganya memilih Hog’s Head yang lebih sepi. Lebih karena mereka baru saja menjenguk Severus yang tergeletak luka-luka di rumah sakit sekolah. Apalagi di Three Broomsticks tadi, mereka sempat mencuri dengar obrolan antara Minerva McGonagal dengan Pomona Sprout dan Fillius Flitwick.
Profesor Sprout yang paling semangat berbicara, “Aku tak tega lihat luka-luka di tubuh Snape. Sebetulnya aku masih heran apa yang dia cari malam-malam di bawah Dedalu Perkasa? Dan, kenapa pula Ika dan Weez ada di sana?”
“Pssst, pelankan suaramu, Pomona. Jangan sampai ada murid tahu kejadian semalam. Kau tahu kan? Ini tentang Remus Lupin” sambung Profesor McGonagal. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri.
“Ya. Dan semalam bulan purnama penuh…” bisik professor Flitwick sambil menyeruput kopinya.
Profesor Sprout membelalakkan mata sambil menaruh tangan di bibirnya. “Oh. Aku lupa…”
“Madam Pomfrey bilang gadis-gadis itu mengaku sedang kebetulan lewat dan melihat Snape sedang susah payah berusaha menjauh dari Dedalu Perkasa. Tubuhnya sudah luka-luka kena amukan pohon itu.” Kata Minerva.
“Dan kau percaya itu?” sambar Flitwick. “Kalian ingat kan insiden di Hutan Terlarang tahun kemarin? Gadis-gadis itu tak mungkin kebetulan lewat. Mereka pasti ada di sana, merencanakan…”
“Kalau sekarang yang tergeletak di rumah sakit adalah salah satu dari James Potter, Sirius Black atau Peter Pettigrew mungkin kau bisa bilang begitu, Fillius.” Minerva menimpali. “Snape kan tak pernah bergaul dengan gadis-gadis! Apalagi gadis seperti Ika dan Weez.”
“Tapi kurasa Fillius benar. Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa dua gadis itulah yang pertama kali mengetahui keadaan Snape. Kalau kejadian semalam ada hubungannya dengan Lupin, mereka pasti tahu sesuatu. Walau sifatnya jauh berbeda, Remus itu dekat dengan James Potter dan Sirius Black… dan mereka dekat dengan Hestia, Weez dan Ika.”
“Yaaa, mengawasi ratusan remaja dengan berbagai sifat dan latar belakang… hmmm…” ujar Profesor McGonagal. “Rasa ingin tahu mereka kan besar sekali. Saat aku seusia mereka…”
Dan selanjutnya Weez menarik Hestia dan Ika keluar dari Three Broomstick karena ternyata obrolan itu berubah jadi ajang curhat pribadi para guru.
“Kukira kita akan dengar sesuatu yang penting tentang kejadian semalam…” keluh Weez dengan tampang sinis saat mereka sudah di luar kedai minum itu.
“Paling tidak kita tahu para guru tidak menyadari keberadaan cowok-cowok itu di tempat kejadian. Dan itu artinya kalian berdua bisa jadi sorotan para guru. Tapi aku senang kalian yang terkesan menyelamatkan Sev.” kata Hestia. Walau bibirnya baru saja mengucapkan kata “senang”, tetap saja tak ada ekspresi kesenangan di wajahnya.
“Aku tak peduli Sirius, James dan Peter bisa lolos dari kejadian ini selama aku dan Weez tidak didetensi atau tidak dikeluarkan. Tapi kalau kami kena sanksi, jelas aku akan seret mereka juga!” Ika berkata sambil mempercepat langkahnya menuju Hog’s Head.
“Aku tak mau tahu apa yang kalian rencanakan di belakangku, but I’m sure both of you know you’ve gone too far.” ujar Hestia sesampainya di Hog’s Head. Tangannya memegang erat botol Butterbeer dan matanya berpindah-pindah antara Ika dan Weez di hadapannya. “Hentikan rencana kalian. Right very now!”
“Hes, apa yang terjadi pada Severus bukan salah kami.” Weez langsung membela diri. “Dia tak tahu apa-apa tentang rencana kami maupun rencana James dan Sirius. Satu hal yang pasti, Sev sudah tahu Remus adalah manusia serigala. He hate the boys so much, Hes. And he always wanted to prove that the boys are not as good as people see. That’s why he came to Whomping Willow last night.”
“Apa maksudmu?” Tanya Hestia.
Weez baru membuka mulutnya untuk menjawab, tapi tiba-tiba Ika menyelanya, “Hes, Sev is too damn good in Potion class. Dia hapal seluruh isi lemari Slughorn dan aku sempat bertanya kepadanya tentang ramuan Remus. Dia sudah curiga padaku saat seluruh bahan itu menghilang tak lama setelah aku bertanya.”
“Dan kau tahu kan seluruh bahan ramuan itu bukan jenis bahan yang dengan gampangnya bisa kita beli di Diagon Alley?”, tambah Weez cepat menyela ucapan Ika.
“Karena tak minum ramuannya, dua hari ini Remus terlalu lemah untuk bisa masuk kelas dan tadi malam adalah purnama penuh. It doesn’t take a rocket scientist to know the relevance of what happened, Hes” Ika melanjutkan.
“Hah? Rocket scientist?” Tanya Weez. “Ilmuwan roket? Apa itu?”
“Di dunia muggle, itu semacam ilmuwan yang… ah sudahlah! Intinya, Sev tahu sesuatu sedang terjadi and it involves us and the boys. Sudahlah, Hes. Toh James sudah menyelamatkannya”
“Kau utang penjelasan tentang rocket scientist padaku!” ujar Weez sambil menunjuk Ika.
Hestia memandang kosong ke arah lantai. Tangannya memainkan botol butterbeer dalam genggamannya. “So that’s explain why he sat on Great Hall the whole afternoon. Dan dia melihat Remus dan Sirius berjalan ke arah Dedalu Perkasa. Tapi kurasa Severus tidak tahu mereka akan ke Shrieking Shack. Yang dia tahu hanya…”
Belum sempat Hestia meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Peter Pettigrew muncul terengah-engah. Napasnya tak beraturan dan keringat membasahi dahinya. “Hestia, syukurlah, akhirnya aku menemukanmu. Aku sudah mencari ke setiap toko di Hogsmeade. Aku tak menyangka kalian ke sini juga…”
Weez langsung semangat menanggapi ucapan Peter, “Peter, kalau kau tak segera memberi tahu apa yang membuatmu mencari Hestia, aku akan membuatmu mencuci seragam seluruh tim Quidditch Gryffindor malam ini! Sepertinya sangat salah kemarin kami latihan hujan-hujanan. Lumpurnya susah sekali dihilangkan!”
“Ooh, C’mon Weez. Ini kan hari libur. Lagipula, apa salahnya aku mencari Hestia? Hestia, aku butuh pertolonganmu. Hmmm, hmm, tongkat sihirku jatuh ke danau. Bisakah kau meminta tolong para duyung untuk mencarikannya? Please…”
“Kenapa kau tak suruh James? I heard he tends to be very physical person! Dia jago berenang kan?” ujar Hestia datar. Ika dan Weez menyembunyikan tawa mereka dengan menundukkan wajah.
“Mana mau dia berenang setelah hujan sepanjang pagi ini? Ayolaaah, Hestia. Tolong aku.”
“Kami baru saja sampai di sini, bodoh! Dan sekarang kau mau kami kembali ke sekolah??” teriak Weez pada Peter. “Kami punya urusan penting di sini, tauuu!”
“Eeh, eeh” Peter langsung salah tingkah. Ketahuan sekali sekarang dia sangat berhati-hati di depan Weez. Bahkan sebuah hal yang biasa ia lakukan pun bisa berbuah detensi kalau Weez mau. “Bukan, Weez. Bukan… hmmm… tak apa, kau dan Ika bisa di sini dulu. Nanti akan kuantar Hestia lagi kesini.”
“Oke. Ayo sekarang kita cari tongkatmu. Setelah itu antar aku kembali ke sini.” Ujar Hestia. Peter kelihatan senang sekali. Dia tersenyum lebar sambil mengangkat tinjunya ke atas saking senangnya. Tapi tak lama setelah Hestia meninggalkan Hog’s head, seseorang duduk di kursi yang tadi Hestia duduki. Sirius Black. Dia hanya duduk di hadapan Ika dan Weez, memberi mereka pandangan tajam sambil bersandar dengan tangan terlipat tanpa kata. Ika dan Weez juga melakukan hal yang sama pada Sirius.
Weez membuka obrolan, “Apakah tongkat Peter benar-benar jatuh ke danau?”
“Ya, benar. Aku melemparnya ke danau dan James menyarankan Peter supaya minta tolong pada Hestia.” Jawab Sirius santai.
“Kenapa tak langsung bilang saja kalau kau mau bicara dengan kami?” tanya Ika.
“Agak susah bagiku untuk lepas dari pandangan Remus akhir-akhir ini. Dia tidak bodoh, dia tahu kalian merencanakan sesuatu. Dia tidak bisa menghentikan kalian, tapi dia mengawasiku untuk mencegah sesuatu yang lebih buruk dari kejadian semalam…”
Weez menyadari usaha Sirius untuk membuat mereka merasa bersalah. Weez tertawa sinis sambil menggelengkan kepalanya dan berkata, “Get over it, Sirius. We’re not gonna stop before you confess to her.”
“Oh c’mon girls, look what you’ve done! Severus dan Remus terluka karena saling kejar semalam. Dia sudah tau Remus itu manusia serigala! Bagaimana kalau Remus benar-benar sampai dikeluarkan? Bagaimana kalau kami semua dikeluarkan? Bagaimana kalau… ”
“What we’ve done? What we’ve done, Sirius? No, look what you’ve done! Kalau saja kau mau mengecilkan sedikit kepalamu, situasi seperti ini tak harus terjadi!” Ika menyela omongan Sirius dengan berapi-api. “Apa lagi yang kau tunggu? Kita semua berakhir di St. Mungo? Kita saling lempar mantra Cruciatus? Hogwarts habis terbakar? I agree with Weez, we can do it for the rest of our life…”
“Oke, oke.” Menyadari dua orang di depannya adalah perempuan-perempuan sadis, Sirius menarik napas panjang berkali-kali sebelum melanjutkan kalimatnya. “I’ll talk to her.”
“Confess, Sirius.” Ujar Weez menekankan.
“Whatever. Tapi hentikan semua ini. Leave my friends out of this. Terutama kau, Ka. Berikan bahan-bahan ramuan Remus padaku.”
“Only if you confess to her, brother. Immadiately…” jawab Ika sambil menekankan kata terakhir.
“I will. You have my words…” ujar Sirius. Ika dan Weez tersenyum lebar berbarengan.
“Nah, sekarang pergilah, Sirius. I need to ask some question to this young lady about rocket scientist!” ujar Weez cepat.
******************************