Terrible Accident

Posted in Tak Berkategori on Nopember 2nd, 2010 and

“Forget it, Sirius! Aku tak setuju. Aku benar-benar menentangnya.” Tampang Remus menyiratkan kegelisahan. Dia dikelilingi oleh para sahabatnya di kamar tidur mereka. Sirius yang tadinya duduk di jendela menatap ke luar langsung mengalihkan kepalanya ke arah Remus,

“Bahan-bahan ramuanmu mendadak menghilang, Weez enggan mengembalikan Peta Perampok dan mengancam akan menyerahkan benda itu ke McGonagal. What choices do we have?” Tanya Sirius datar.

“Aku bisa melakukannya sendiri, Sirius. Yeah, aku lebih baik begitu daripada membuat kalian semua dalam bahaya.” Jawab Remus. Matanya beralih memandang Sirius, James dan Peter berganti-gantian. Seolah meminta dukungan atas saran yang diajukannya. Tapi Remus harus kecewa. Setelah kalimatnya selesai, James angkat bicara,

“I… would… not… let… that… happen!”

“Guys, it’s illegal, ok? And we are not…” Remus masih berusaha meyakinkan sahabat-sahabatnya.

“Oh, shut up, Remus! Let us handle it…”kata Peter sambil menguap lebar dan berjalan ke tempat tidurnya. “Sirius dan James kan murid terpintar di angkatan kita. Dan selama ini mereka terus mengawasi latihanku.”

Sambil mendengarkan Peter berbicara, Sirius dan James juga melangkah ke tempat tidur masing-masing. Wajah Remus masih ditutupi kegelisahan.

“Peter, ini bukan seperti hal yang biasa James lakukan untuk mencari perhatian Lily…”

“Good night, Remus.” Ujar Peter, Sirius dan James berbarengan.

Dari balik pintu kamar mereka, Weez berpikir keras tentang apa yang baru saja didengarnya secara sembunyi-sembunyi. Para anak lelaki itu merencanakan sesuatu yang serius, sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang illegal. Dia sudah curiga saat tadi Remus meminta kembali Peta Perampok yang dipinjamnya. Pasti ada hubungannya dengan malam bulan purnama penuh minggu depan. Weez ingin sekali langsung memberi tahu Ika. Tapi dia enggan membayangkan harus menaiki tangga spiral 5 lantai untuk mencapai menara Ravenclaw.

*******************************

Hogsmeade selalu sangat ramai pada akhir minggu. Apalagi Three Broomstick, tempat Hestia, Ika dan Weez dengan santainya bergosip dan curhat sambil minum-minum. Biasanya mereka akan setia menunggu sampai mereka bisa duduk di dalamnya. Tapi kali ini ketiganya memilih Hog’s Head yang lebih sepi. Lebih karena mereka baru saja menjenguk Severus yang tergeletak luka-luka di rumah sakit sekolah. Apalagi di Three Broomsticks tadi, mereka sempat mencuri dengar obrolan antara Minerva McGonagal dengan Pomona Sprout dan Fillius Flitwick.

Profesor Sprout yang paling semangat berbicara, “Aku tak tega lihat luka-luka di tubuh Snape. Sebetulnya aku masih heran apa yang dia cari malam-malam di bawah Dedalu Perkasa? Dan, kenapa pula Ika dan Weez ada di sana?”

“Pssst, pelankan suaramu, Pomona. Jangan sampai ada murid tahu kejadian semalam. Kau tahu kan? Ini tentang Remus Lupin” sambung Profesor McGonagal. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri.

“Ya. Dan semalam bulan purnama penuh…” bisik professor Flitwick sambil menyeruput kopinya.

Profesor Sprout membelalakkan mata sambil menaruh tangan di bibirnya. “Oh. Aku lupa…”

“Madam Pomfrey bilang gadis-gadis itu mengaku sedang kebetulan lewat dan melihat Snape sedang susah payah berusaha menjauh dari Dedalu Perkasa. Tubuhnya sudah luka-luka kena amukan pohon itu.” Kata Minerva.

“Dan kau percaya itu?” sambar Flitwick. “Kalian ingat kan insiden di Hutan Terlarang tahun kemarin? Gadis-gadis itu tak mungkin kebetulan lewat. Mereka pasti ada di sana, merencanakan…”

“Kalau sekarang yang tergeletak di rumah sakit adalah salah satu dari James Potter, Sirius Black atau Peter Pettigrew mungkin kau bisa bilang begitu, Fillius.” Minerva menimpali. “Snape kan tak pernah bergaul dengan gadis-gadis! Apalagi gadis seperti Ika dan Weez.”

“Tapi kurasa Fillius benar. Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa dua gadis itulah yang pertama kali mengetahui keadaan Snape. Kalau kejadian semalam ada hubungannya dengan Lupin, mereka pasti tahu sesuatu. Walau sifatnya jauh berbeda, Remus itu dekat dengan James Potter dan Sirius Black… dan mereka dekat dengan Hestia, Weez dan Ika.”

“Yaaa, mengawasi ratusan remaja dengan berbagai sifat dan latar belakang… hmmm…” ujar Profesor McGonagal. “Rasa ingin tahu mereka kan besar sekali. Saat aku seusia mereka…”

Dan selanjutnya Weez menarik Hestia dan Ika keluar dari Three Broomstick karena ternyata obrolan itu berubah jadi ajang curhat pribadi para guru.

“Kukira kita akan dengar sesuatu yang penting tentang kejadian semalam…” keluh Weez dengan tampang sinis saat mereka sudah di luar kedai minum itu.

“Paling tidak kita tahu para guru tidak menyadari keberadaan cowok-cowok itu di tempat kejadian. Dan itu artinya kalian berdua bisa jadi sorotan para guru. Tapi aku senang kalian yang terkesan menyelamatkan Sev.” kata Hestia. Walau bibirnya baru saja mengucapkan kata “senang”, tetap saja tak ada ekspresi kesenangan di wajahnya.

“Aku tak peduli Sirius, James dan Peter bisa lolos dari kejadian ini selama aku dan Weez tidak didetensi atau tidak dikeluarkan. Tapi kalau kami kena sanksi, jelas aku akan seret mereka juga!” Ika berkata sambil mempercepat langkahnya menuju Hog’s Head.

“Aku tak mau tahu apa yang kalian rencanakan di belakangku, but I’m sure both of you know you’ve gone too far.” ujar Hestia sesampainya di Hog’s Head. Tangannya memegang erat botol Butterbeer dan matanya berpindah-pindah antara Ika dan Weez di hadapannya. “Hentikan rencana kalian. Right very now!”

“Hes, apa yang terjadi pada Severus bukan salah kami.” Weez langsung membela diri. “Dia tak tahu apa-apa tentang rencana kami maupun rencana James dan Sirius. Satu hal yang pasti, Sev sudah tahu Remus adalah manusia serigala. He hate the boys so much, Hes. And he always wanted to prove that the boys are not as good as people see. That’s why he came to Whomping Willow last night.”

“Apa maksudmu?” Tanya Hestia.

Weez baru membuka mulutnya untuk menjawab, tapi tiba-tiba Ika menyelanya, “Hes, Sev is too damn good in Potion class. Dia hapal seluruh isi lemari Slughorn dan aku sempat bertanya kepadanya tentang ramuan Remus. Dia sudah curiga padaku saat seluruh bahan itu menghilang tak lama setelah aku bertanya.”

“Dan kau tahu kan seluruh bahan ramuan itu bukan jenis bahan yang dengan gampangnya bisa kita beli di Diagon Alley?”, tambah Weez cepat menyela ucapan Ika.

“Karena tak minum ramuannya, dua hari ini Remus terlalu lemah untuk bisa masuk kelas dan tadi malam adalah purnama penuh. It doesn’t take a rocket scientist to know the relevance of what happened, Hes” Ika melanjutkan.

“Hah? Rocket scientist?” Tanya Weez. “Ilmuwan roket? Apa itu?”

“Di dunia muggle, itu semacam ilmuwan yang… ah sudahlah! Intinya, Sev tahu sesuatu sedang terjadi and it involves us and the boys. Sudahlah, Hes. Toh James sudah menyelamatkannya”

“Kau utang penjelasan tentang rocket scientist padaku!” ujar Weez sambil menunjuk Ika.

Hestia memandang kosong ke arah lantai. Tangannya memainkan botol butterbeer dalam genggamannya. “So that’s explain why he sat on Great Hall the whole afternoon. Dan dia melihat Remus dan Sirius berjalan ke arah Dedalu Perkasa. Tapi kurasa Severus tidak tahu mereka akan ke Shrieking Shack. Yang dia tahu hanya…”

Belum sempat Hestia meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Peter Pettigrew muncul terengah-engah. Napasnya tak beraturan dan keringat membasahi dahinya. “Hestia, syukurlah, akhirnya aku menemukanmu. Aku sudah mencari ke setiap toko di Hogsmeade. Aku tak menyangka kalian ke sini juga…”

Weez langsung semangat menanggapi ucapan Peter, “Peter, kalau kau tak segera memberi tahu apa yang membuatmu mencari Hestia, aku akan membuatmu mencuci seragam seluruh tim Quidditch Gryffindor malam ini! Sepertinya sangat salah kemarin kami latihan hujan-hujanan. Lumpurnya susah sekali dihilangkan!”

“Ooh, C’mon Weez. Ini kan hari libur. Lagipula, apa salahnya aku mencari Hestia? Hestia, aku butuh pertolonganmu. Hmmm, hmm, tongkat sihirku jatuh ke danau. Bisakah kau meminta tolong para duyung untuk mencarikannya? Please…”

“Kenapa kau tak suruh James? I heard he tends to be very physical person! Dia jago berenang kan?” ujar Hestia datar. Ika dan Weez menyembunyikan tawa mereka dengan menundukkan wajah.

“Mana mau dia berenang setelah hujan sepanjang pagi ini? Ayolaaah, Hestia. Tolong aku.”

“Kami baru saja sampai di sini, bodoh! Dan sekarang kau mau kami kembali ke sekolah??” teriak Weez pada Peter. “Kami punya urusan penting di sini, tauuu!”

“Eeh, eeh” Peter langsung salah tingkah. Ketahuan sekali sekarang dia sangat berhati-hati di depan Weez. Bahkan sebuah hal yang biasa ia lakukan pun bisa berbuah detensi kalau Weez mau. “Bukan, Weez. Bukan… hmmm… tak apa, kau dan Ika bisa di sini dulu. Nanti akan kuantar Hestia lagi kesini.”

“Oke. Ayo sekarang kita cari tongkatmu. Setelah itu antar aku kembali ke sini.” Ujar Hestia. Peter kelihatan senang sekali. Dia tersenyum lebar sambil mengangkat tinjunya ke atas saking senangnya. Tapi tak lama setelah Hestia meninggalkan Hog’s head, seseorang duduk di kursi yang tadi Hestia duduki. Sirius Black. Dia hanya duduk di hadapan Ika dan Weez, memberi mereka pandangan tajam sambil bersandar dengan tangan terlipat tanpa kata. Ika dan Weez juga melakukan hal yang sama pada Sirius.

Weez membuka obrolan, “Apakah tongkat Peter benar-benar jatuh ke danau?”

“Ya, benar. Aku melemparnya ke danau dan James menyarankan Peter supaya minta tolong pada Hestia.” Jawab Sirius santai.

“Kenapa tak langsung bilang saja kalau kau mau bicara dengan kami?” tanya Ika.

“Agak susah bagiku untuk lepas dari pandangan Remus akhir-akhir ini. Dia tidak bodoh, dia tahu kalian merencanakan sesuatu. Dia tidak bisa menghentikan kalian, tapi dia mengawasiku untuk mencegah sesuatu yang lebih buruk dari kejadian semalam…”

Weez menyadari usaha Sirius untuk membuat mereka merasa bersalah. Weez tertawa sinis sambil menggelengkan kepalanya dan berkata, “Get over it, Sirius. We’re not gonna stop before you confess to her.”

“Oh c’mon girls, look what you’ve done! Severus dan Remus terluka karena saling kejar semalam. Dia sudah tau Remus itu manusia serigala! Bagaimana kalau Remus benar-benar sampai dikeluarkan? Bagaimana kalau kami semua dikeluarkan? Bagaimana kalau… ”

“What we’ve done? What we’ve done, Sirius? No, look what you’ve done! Kalau saja kau mau mengecilkan sedikit kepalamu, situasi seperti ini tak harus terjadi!” Ika menyela omongan Sirius dengan berapi-api. “Apa lagi yang kau tunggu? Kita semua berakhir di St. Mungo? Kita saling lempar mantra Cruciatus? Hogwarts habis terbakar? I agree with Weez, we can do it for the rest of our life…”

“Oke, oke.” Menyadari dua orang di depannya adalah perempuan-perempuan sadis, Sirius menarik napas panjang berkali-kali sebelum melanjutkan kalimatnya. “I’ll talk to her.”

“Confess, Sirius.” Ujar Weez menekankan.

Whatever. Tapi hentikan semua ini. Leave my friends out of this. Terutama kau, Ka. Berikan bahan-bahan ramuan Remus padaku.”

“Only if you confess to her, brother. Immadiately…” jawab Ika sambil menekankan kata terakhir.

“I will. You have my words…” ujar Sirius. Ika dan Weez tersenyum lebar berbarengan.

“Nah, sekarang pergilah, Sirius. I need to ask some question to this young lady about rocket scientist!” ujar Weez cepat.

******************************

Torturing Scheme

Posted in Tak Berkategori on Oktober 9th, 2010 and

BY : BabaCilukba

Malam itu suasana ruang rekreasi Gryffindor sangat sepi. Hestia membaca Witch Weekly sambil menemani Weez mengerjakan peer Mantra-nya. Di hadapan mereka terletak Bubble dalam akuariumnya yang kelihatan seperti baru dibersihkan. Tak jauh dari tempat mereka berdua duduk, hanya ada 2 murid perempuan kelas 7 sedang ngobrol sambil tertawa-tawa kecil. Dari arah kamar anak laki-laki, Hestia melihat Sirius berjalan menuju meja mereka. Hestia menaikkan Witch Weekly-nya hingga menutupi wajah.

“Hai. Hestia, hmmm… boleh… boleh aku bicara dengan Weez sebentar?” tanya Sirius gugup. Weez mengangkat wajahnya. Mengalihkan pandangannya dari perkamen yang sedang ia tulis ke wajah Sirius.

Hestia melipat bacaannya, mengambil akuarium kura-kuranya tanpa kata, dan langsung berjalan menuju kamar anak perempuan. Weez mengantarkan Hestia dengan pandangannya sampai Hestia menghilang.

“Hanya itukah yang sanggup kau katakan padanya?” Sekarang Weez memandangi Sirius yang mondar-mandir di hadapannya.

“What are you thinking you’re doing, Weez? Kau dan Ika merencanakan sesuatu. Aku tahu itu! Aku sudah tanya Ika tapi dia tetap tak menjawab” ujar Sirius.

“What are you talking about?” Weez mulai merapikan perkamen dan buku-bukunya.

Sirius menarik kursi yang semula diduduki Hestia, “Ada yang aneh dengan sapu James, kau tak henti-hentinya memberi Peter detensi, dan mendadak semua bahan-bahan untuk ramuan Remus menghilang dari lemari Slughorn… tell me what is all about, Weez!” ujar Sirius setenang mungkin.

“You know what it’s all about. You wanna play rough, let’s play rough, Sirius!” Weez menjawab tak kalah tenang. Bahkan berhasil memberikan sebuah senyum untuk Sirius.

“Leave my friends out of this, Weez. Ini antara…”

“Dengar, Sirius,” sambar Weez memotong ucapan Sirius. “Kalau Hestia menangis karena kau sindir-sindir tentang darah murni dan kakeknya yang legendaris itu, apa setelah itu dia mencarimu dan balas menghina keluargamu? Aku akan lebih senang kalau dia melakukan itu. Tapi kenyataannya tidak, Sirius. Dia lari ke aku dan Ika. Kau tahu bagaimana kami para gadis berteman, kan? Kau bisa saja tak peduli kalau James mengharap Lily padahal Lily membencinya setengah mati! Tapi aku dan Ika tidak seperti kau! Aku dan Ika yang mendengar keluhannya tentang kau! Aku dan Ika yang sibuk menenangkannya, menghentikan tangisannya. Bukan kau!” tambah Weez sambil menunjuk-nunjuk wajah Sirius. Sirius menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Aku mengerti gaya pertemanan kalian, Weez. But I’m so sorry if this sounds so rude. Tapi kenapa tak kau biarkan saja ini jadi urusanku dan Hestia? Kenapa kau dan Ika harus begitu repot membelanya? Dan yang aku ingin tahu, kenapa kalian libatkan teman-temanku juga?”

“Sorry, Sirius. But you should know, aku dan Ika hanya melakukan apa yang kau lakukan pada Hestia. Semakin lama kau menyiksanya, semakin menderita pula teman-temanmu. James dan Peter mungkin bisa bertahan, tapi pikirkan Remus. Bulan purnama hanya tinggal seminggu lagi. Dan ini baru bulan pertamanya di Hogwarts…”

“Nah, kau sadar hal itu, kan? You put Remus in danger, Weez! Dia bisa saja…”

“No, Sirius! Stop talking as if we are the bad guy!” kata Weez sambil bangkit dari duduknya dan menatap lawan bicaranya. Sedangkan Sirius terlihat inferior di kursinya. “Fine if you still want to stand for your ego. Enak juga bisa bikin James dan Peter jadi sering repot akhir-akhir ini. Kalian mau balas dendam? You do that! We can do it for our lifetime, you know?”

Weez langsung beranjak dari ruang rekreasi Gryffindor. Meninggalkan Sirius yang masih duduk terpaku. Masih jelas di benaknya bayangan James tergantung di sapunya di ketinggian 20 meter pada latihan Quidditch terakhir 2 hari yang lalu. Aneh sekali belakangan ini sapu James sering bermasalah. Dan yang lebih aneh lagi, Weez yang biasanya sangat solider di lapangan sekarang hanya menertawai James dari gawang yang dijaganya.

Melintas pula bayangan Peter setiap malam tidur tanpa mengganti baju karena terlalu lelah menjalani detensi tak masuk akal dari Weez. Hanya karena kemeja tak rapi, hanya karena menertawakan murid-murid kelas 1 yang sedang belajar terbang, karena nilai peer Sejarah Sihir Peter jelek (Siapa sih yang mau dapat nilai jelek?) dan juga karena berani memprotes Weez atas semua detensi yang dijalaninya yang terkesan mengada-ada.

Tapi tak ada yang lebih mengganggu pikiran Sirius selain nasib Remus. Kenyataan bahwa Ika dan Weez ternyata berani melibatkan Remus adalah pertanda keseriusan mereka. Dan usaha melawan mereka hanya akan menghasilkan kekacauan.

Part 2 : Stealing Plan

Posted in Tak Berkategori on September 20th, 2010 and

BY : Babacilukba

Sebulan hampir berlalu sejak kejadian di meja makan Gryffindor itu. Sirius tampak sudah melupakan obrolannya dengan Ika. Sehari-harinya dia terlihat biasa saja, santai tanpa beban. Sedangkan Ika sebaliknya. Sibuk meladeni pertanyaan Hestia yang penasaran. Ika berpikir rasa penasaran Hestia hanya masalah kecil. Dia lebih sibuk mencari cara supaya Sirius mau mengakui perasaannya pada Hestia. Untuk itu, Ika menarik Weez ke perpustakaan di tengah jam makan siang.

“Weez, kau sudah tau apa yang terjadi di meja makan itu. Kau juga sudah tau pembicaraanku dengan Sirius di Shrieking Shack tahun kemarin. Kau harus membantuku. Kita harus bantu Hestia. Tak bisakah kau bujuk Sirius untuk mengaku? Kau kan lebih sering ketemu dia.” Ujar Ika setengah berbisik, mengingat sekarang mereka berdua duduk di perpustakaan yang sunyi.

Weez tampak malas-malasan menanggapi pertemuan rahasia mereka itu. “Hmmppfff, jujur saja aku agak malas berurusan dengan Sirius. Dia suka sok misterius sih! Aku heran, apa yang dilihat Hestia sampai dia bisa naksir berat sama cowok aneh itu. Yang lebih mengherankan lagi, dia suka mengata-ngatai Severus. Padahal kalau Sirius disandingkan dengan Sev, apa bedanya mereka, coba?! Sama-sama pintar, sama-sama sok cool, sama-sama aneh, sama-sama… black!” kata Weez polos.

“Yah, aku sudah menduga kau tak akan mau bujuk Sirius.” ujar Ika lemah.

“Kau bisa dekati Regulus lagi supaya dia mau membujuk Sirius…” sambar Weez cepat.

Bola mata Ika langsung berputar membentuk lingkaran 360 derajat. “Weez, aku akan dekati Regulus hanya supaya dia tidak menangkap Snitch lebih dulu daripada aku. Mana mau Sirius mendengar omongan adik semata wayangnya itu?”

“Lalu bagaimana? Kita siksa Sirius sampai dia mau mengaku?” tanya Weez pelan.

“Aku punya rencana.” Mata Ika melirik ke kanan dan ke kiri sebelum melanjutkan omongannya, “Bawa Slughorn keluar dari Hogwarts malam ini…” kata Ika. Sekarang dia menatap lurus ke arah mata Weez.

“Whaaaattt?” teriak Weez. Akibatnya sekarang seluruh orang di perpustakaan menatap mereka berdua. Ika memegangi lengan Weez dan menaruh jari telunjuk di bibirnya. Dari kejauhan, Madam Pince, pengurus perpustakaan Hogwarts menyuruh mereka diam dengan “Pssst!”-nya yang tak kalah keras. “Kau mau aku mengencani anjing laut itu? Ika, are you out of your mind? Apa hubungannya dengan Hestia dan Sirius?”

“Weez… please be calm, would you? Bukan begitu maksudku. Aku yakin suatu hari kau akan bertemu anak band idamanmu untuk kau pacari. Tapi aku punya rencana lain…” jawab Ika dengan suara memelas. “Aku sudah meng-Confundus sapu James. Tapi setelah kulihat sesi latihan kalian kemarin, tampaknya mantra Confundus-ku masih belum terlalu kuat. Sapu James hanya terbang pelan sekali dan sedikit tersendat. Padahal maksudku…”

Weez langsung memotong omongan Ika, “Wow, wow, wow, wait a minute, girl! Kau melakukan sabotase supaya tim Quidditch Gryffindor kalah yah? Mau main curang tahun ini? Kehabisan akal untuk mengalahkan James?”

Ika menepuk dahinya sendiri, dia benar-benar melupakan fakta bahwa lawan bicaranya adalah teman akrab James dan juga seorang keeper Gryffindor.

“Bukan itu maksudku, Weez. Aku tak akan menyihir sapu James saat pertandingan. Aku tak selicik itu, tau! Hanya pada saat latihan kok. Aku hanya ingin… hmm.. melukainya sedikit. Membuatnya terjatuh dari sapu. He’ll be better in a few days.” Ika menjawab tanpa memandang Weez. Perasaan bersalah sekarang berkecamuk di dadanya. Tak pernah sekalipun ia mengira akan berani mencelakakan orang untuk meraih sebuah tujuan. Tapi nyatanya sekarang ia benar-benar melakukannya! Apalagi untuk rencana selanjutnya yang… Ika tak berani membayangkan akibat terburuk rencana berikutnya.

“Lalu apa hubungannya dengan Slughorn?” Tanya Weez dengan tampang bingung.

“Aku akan menyusup ke kantor Slughorn… untuk mengambil semua bahan-bahan ramuan Remus!” jawab Ika pelan dan terbata-bata. “2 minggu lagi bulan purnama… Aku sudah tanya Sev apa saja bahan-bahannya. Kau tau kan? Cowok-cowok itu juga mencuri dari kantor Slughorn untuk bikin ramuan Remus. Sayang aku tak punya Jubah Gaib, jadi kau yang harus alihkan perhatian Slughorn!”

“You are really-really out of your mind! Bagaimana kalau Remus kenapa-kenapa karena dia tak minum ramuannya?” tanya Weez.

“Kenapa sih dari tadi yang kau cemaskan hanya teman-temannya? How about our bestfriend, Weez? Gimana dengan Hestia? Sirius gave my bestfirend harsh times, and that’s exactly what I will give to him! Give his bestfriends harsh time! Hanya dengan cara ini Sirius akan bicara” jawab Ika.

Weez sempat lama terdiam sebelum membalas ucapan Ika, “Yeah. Sirius loves his bestfriends more than anything. Tapi… Ika… for God’s sake, I’m prefect, Ka! I don’t break the rules!”

“Mengajak guru keluar sekolah, kan, nggak melanggar peraturan apapun, Weez. Terserah kau sajalah mau pakai alasan apa. Oh ya, tolong sekalian pinjamkan Peta Perampok. Terakhir yang kutahu, peta itu sudah selesai dibuat dan ada di Remus. Sebagai prefek, kau punya banyak alasan untuk meminjamnya. Aku masih tak tahu rencanaku dengan Peter. Menurutmu apa?”

“Serahkan Peter padaku! Aku juga masih dendam padanya karena tahun lalu dia menertawakanku habis-habisan saat aku gagal mentransformasi buku jadi bantal. Padahal bukuku hanya mengeluarkan sedikit kapuk kalau dibuka. Sedangkan buku Peter jadi banyak bercak iler dan sangat bau setelahnya!” ujar Weez dengan tampang kesal. “Tapi aku tak bisa malam ini. Peer Herbologi. Lagipula nanti kau kan latihan Quidditch“

Ika sempat tertawa tertahan mendengar keluh Weez tentang pelajaran Transfigurasinya. “Tak masalah. Latihannya tak akan sampai malam. Tapi kita harus gerak cepat, Weez. Kalau tidak, kita akan keduluan cowok-cowok itu! Bisakah kita lakukan besok malam?”

“Hmmm, yaa okelah besok malam. Setelah ini aku ada kelas Ramuan. Aku akan bicara dengan Slughorn nanti.” Ujar Weez sambil berdiri menyudahi pembicaraan mereka. Di koridor menuju kelas masing-masing, mereka bertemu Peter, James dan Sirius. Secara tiba-tiba Weez berkata, “Peter, rapikan kemejamu. Pakai jubah dengan rapi. Jangan hanya kau gantungkan di bahu. Detensi malam ini. Kau harus merapikan ruang rekreasi Gryffindor sampai benar-benar bersih!”

Peter, James dan Sirius yang ketiganya memang tak memasukkan kemeja ke celana panjang mereka dengan rapi langsung berhenti berjalan sambil menatap Weez tak percaya. Ika dan Weez hanya terus berjalan dengan senyum kepuasan tersungging lebar di bibir mereka.

***************************

5th Grade : Part 1 Di Meja Gryffindor

Posted in Tak Berkategori on September 14th, 2010 and

BY: Babacilukba

Malam itu hujan turun dengan sangat deras. Lengkap dengan petir dan kilat yang menyambar. Musim panas memang sudah berakhir dan itu membuat aula Hogwarts terlihat begitu rusuh. Anak-anak kelas 1 yang basah kehujanan tampak menyedihkan saat berbaris di dekat pintu aula.

“Oooh sedih betul jadi anak baru. Harus menyebrang danau saat hujan begini.” Ujar Hestia pelan saat dia, Weez dan Ika baru saja memasuki aula setelah turun dari Hogwarts Express. Hestia masih memegang akuarium mini berisi Bubble Blabbing, kura-kura jantan peliharaannya.

“Maksudmu, sayang sekali mereka semua belum belajar mantra? Karena seingatku kita bertiga juga hujan-hujanan di malam pertama kita di sini”, balas Ika yang matanya memandang berkeliling aula.

“Betul! Kita nggak basah hanya karena kau memantrai kami dengan mantra Impervius, Hes!” tambah Weez sambil terus mengunyah Coklat Kodoknya. “Wow, look at that. The boys are already on their seats.”

Baru saja Weez menyelesaikan kalimatnya, mata Hestia langsung tertuju ke arah meja Gryffindor. Bola matanya berhenti berputar saat ia menemukan sosok Sirius Black. Seperti biasa, ia duduk di sebelah James Potter. Di hadapannya ada Peter Pettigrew dan Remus Lupin. Mereka berempat terlihat sangat ceria. Dan menurut penelitian, kita punya feeling yang kuat saat ada seseorang sedang memandangi kita. Dan 90% feeling itu pasti benar. Rupanya itulah yang terjadi pada Sirius. Secara tiba-tiba, kepalanya beralih dari memandang Remus di depannya, menjadi ke arah para gadis berdiri. Rupanya dia sadar sedang jadi objek kekaguman seseorang di kejauhan. Mata Sirius langsung menatap tajam Hestia. Hestia langsung gelagapan. Secara refleks dia berpindah posisi jadi membelakangi Sirius.

“Ika, Weez, tolong aku! Aku ketahuan! Sekarang dia memandangiku kan? Iya kan? Aaaarrggh, I must be looking so stupid rite now!” bisik Hestia sambil melotot pada dua sahabatnya.

“Hmmm, iya sih. Tadi. Sekarang dia melanjutkan obrolannya dengan Remus.” Jawab Weez tanpa memandang Hestia. “Ngapain sih kita masih berdiri ngalangin jalan begini? Ayo duduk. Tuh sorting hat udah dikeluarin”.

“I just remember. I got something to say to Sirius. C’mon, girls. I’ll be a Gryffindor tonight.” Ujar Ika sambil melangkah maju ke meja Gryffindor mendahului teman-temannya.

“Hmmm, Ika… meja Ravenclaw bukannya di sana?” ujar Weez yang kebingungan melihat Ika langsung mengambil posisi duduk tepat di sebelah Sirius.

“Sirius, I need to talk to you. Sini, Weez. Duduk sebelah aku” ujar Ika dengan nada yang sangat manis, seolah ingin menyembunyikan kesan bahwa dia baru saja berbisik pada Sirius. Ika tak peduli pada celaan James yang mengatakan Gryffindor sudah punya seeker handal dan tak butuh seeker cadangan dengan skill pas-pasan dari Ravenclaw. Ika tahu James hanya mencoba melucu karena Ika sengaja duduk di meja yang salah. Weez yang masih kebingungan menarik kursi di sebelah Ika. Hestia duduk di sebelah Remus, berhadap-hadapan dengan Ika, Weez, Sirius dan James.

“Hai Hestia. Rambutmu makin panjang” ujar James dengan cengiran khasnya. Hestia diam tak menyahut, memandang James pun tidak. Dia malah membuka percakapan dengan Remus tentang acara liburan mereka. Sambil sesekali matanya mencuri pandang ke arah Sirius yang juga menatapnya dengan tajam. James tampak tak tersinggung dengan sikap acuh Ika dan Hestia. Sebagai gantinya dia berteriak kepada Weez,

“Here she is. One of Gryffindor’s Prefect. Congrats, mate!” teriak James dari sebelah Sirius. Telunjuknya mengarah ke lencana Prefek yang terpasang di jubah Weez.

“Yeah. Thanks, James. Tentu saja aku akan tetap membantaimu kalau kau macam-macam! Hear that, Remus! Sebagai Prefek kita harus tegas!” ujar Weez dengan wajah sok serius. Remus hanya tersenyum kecil menanggapi omongan Weez. Di depan aula, anak-anak kelas 1 sudah memulai acara seleksi. Sementara James, Remus dan Weez berbicara teriak-teriak karena posisi duduk mereka yang berjauhan, Ika dan Sirius memulai obrolan rahasia mereka.

“What do you want?” Tanya Sirius dengan datar.

“Talk to you. About our last conversation” jawab Ika tak kalah datar. “You have to talk to Hestia about it”

“Sudahlah, Ka. Enough talking. Hestia tahu bagaimana sikapku padanya.”

“She doesn’t know the truth, Sirius!” balas Ika. “You love her.”

“She just has to know how it goes.” Kata Sirius. Sedikit salah tingkah mendengar kalimat terakhir Ika. Matanya menatap sekeliling seolah dia takut ketahuan karena baru saja melakukan hal terlarang. “Do we have to talk here?” sambungnya.

“Oh yeah, kita bisa bicara di meja guru di depan sana kalau kau mau” jawab Ika, masih dengan nada datar. Acara seleksi tampaknya akan segera berakhir. Anak-anak kelas 1 rata-rata sudah duduk di asramanya masing-masing. Berarti sebentar lagi professor Dumbledore akan berpidato dan setelah itu diteruskan acara makan malam. Meja Gryffindor masih agak berisik karena suara James, Weez dan Remus.

“Aku tak mau bicara dengannya. Aku tak mau dia tahu kebenarannya. Aku tak mau memulai sesuatu dengannya,” kata Sirius tiba-tiba. “Kau tak bisa memaksaku, Ka.” Wajah Sirius kembali datar. Sebentar-sebentar kepalanya menoleh ke arah professor Dumbledore yang sekarang sedang berbicara di podium. Ika yang tak sengaja melihat Narcissa Black di meja Slytherin tiba-tiba mendapat ide untuk membalas ucapan terakhir Sirius. Ide yang datang dari keputusasaan. Tapi Ika memutuskan untuk mencobanya,

“Aku bisa merebut Lucius Malfoy dari Narcissa hanya supaya sepupumu itu patah hati berat!”

Sirius tertawa kecil, “Kalau kau mau, ambil juga tuh si Rodolphus Lestrange dari Bellatrix. Aku akan dengan senang hati tertawa di atas tangisan mereka.”

Ika terdiam sejenak sebelum melanjutkan omongannya, “Aku akan suruh Xavier mencuri hasil OWL-mu nanti dan kuganti nilainya jadi “Poor” semua! Kau bisa lupakan mimpimu jadi Auror mulai dari sekarang!” Ika mulai bicara dengan nada tinggi.

“Silakan saja. Burung hantumu itu kan pemalas, Ka. Disuruh mengantar surat ke tempat yang dekat saja bisa baru pulang seminggu kemudian. Lagipula, Arthur Weasley sudah punya kerjaan enak di kementrian. Aku yakin dia mau membantuku jadi Auror! Aku dan Molly kan masih saudara jauh. Listen… I don’t wanna talk to her, Ka. Aku tak akan sanggup bicara apa-apa dengannya.”

Ika menatap Sirius dengan geram. Mengancam Sirius rupanya bukan cara ampuh untuk memaksanya mengaku kepada Hestia. Ika habis akal dan terdiam. Di tengah keputusasaannya, dia memejamkan matanya sambil menarik napas panjang dan melanjutkan bicara sepelan mungkin,

“It will be much easier for her if she knows the truth, Sirius. Bisakah kau berhenti menyiksanya? Please…”

Ika dan Sirius diam tertunduk di kursi masing-masing. James rupanya menyadari ada sesuatu dengan sahabatnya karena dia langsung menatap Ika dengan tajam dan serius dari kursinya. James tahu betul obrolan itu pasti tentang Hestia. Remus juga menyadari keadaan itu. Bola matanya berpindah-pindah dari James ke Sirius, lalu ke arah Ika. Weez, Hestia dan Peter melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Remus. Secara ajaib kami semua jadi diam tanpa kata dan saling tatap. Untung saja suasana canggung itu tak berlangsung lama. Beraneka jenis makanan enak secara sihir bermunculan di hadapan mereka. Weez terlihat sangat senang,

“At long last. Makaaaannn…” ujarnya semangat. Tapi baru saja dia mau mengambil makanan, Ika berbisik dari kursinya,

“Weez, masih ingat janjimu membelikanku sapu baru? Lupakan itu. We got a job to do.”

Weez melihat Ika dengan tatapan aneh. Ika hanya tersenyum kecil pada Weez sebelum dia berbisik di telinga Sirius, “I’ll make you talk to her, Sirius. One way or another.”

*************************

Part 12 : Sarapan Pagi

Posted in Tak Berkategori on Januari 6th, 2010 and

Sabtu pagi yang cerah semua siswa sudah berkumpul di alua besar buat sarapan. Aku berjalan menuju Alua dengan tenang. Senang rasanya kembali.

Kakekku memberikan ramuan kepada Madame Pomprey buatku. Saat memasuki alua semua orang terdiam memandangku. Aku berlari ke arah meja Ravenclaw

“Kau?”aku peluk erat-erat tubuh mungilnya.

“Oh, Ika bagaimana caraku berterima kasih padamu,”ujarku semangat.

“Cukup dengan menyuratiku setiap hari selama libur panjang,”jawabnya. “Aku akan sangat merindukan sihir.”

“Bagaimana kalau berlibur di rumahku.” Ika menjawab dengan anggukan senang.

Kemudian aku berjalan ke arah meja asramaku dan menghampiri Weez. Ia langsung berdiri, “Tak perlu berterima kasih padaku. Buatku bukan hal besar bertarung melawan empat pelahap maut sekaligus.”

“Aku tahu kau pasti mencariku parkit bodoh, Kau menemukanku.”

“Mmmm sebenarnya bukan aku yang menemukanmu tapi patronusmu.”

Aku bingung tak mengerti sama sekali ucapan Weez. “Begini seekor anjing besar mirip dengan patronusmu menemukan tempat kau hilang.”

“Weezer patronus tak bisa berubah hidup. Ia harusnya adalah sebuah gambaran dari obyek yang sangat kita cintai,”ujarku

Gerombolan besar merapat ke arah kami. Tepatnya Remus dan James.

“Tapi benar Hestia anjing itu besar mirip seperti patronusmu aku melihatnya. Ia bahkan mengerti apa yang kukatakan. Saat aku terbang melarikan kau ke RS. Aku melihat Dumbledore berapparate di pinggir hutan terlarang menuju tempat pelahap maut dan Hagrid berlari seperti orang gila menuju kau tahu,”

“Kau pasti tidak percaya?”Weez terdengar sangat kesal.

“Tentu aku percaya,” ujarku, James dan Remus bersamaan. Aku dan Weez bingung memandang mereka.

“Maksudku, Weez tak mungkin berbohongkan? Aku kenal dia Hestia,”James menerangkan.

“Betul!!! lagi pula soal patronus hidup aku tertarik ingin tahu lebih banyak,”Remus menengahi.

“Hestia apa kau pencinta anjing, Hingga patronusmu berbentuk anjing. Kalau patronus seperti yang kau bilang sebuah representasi dari sesuatu yang di cintai ”selidik Remus.

Aku berpikir keras dan Remus menunggu jawabanku tak sabar.

“Kalau begitu seharusnya patronusmu adalah koleksi jubah pesta terbaru Madam Malkin Hestia,”kelakar Weez.

“Kau benar Weez, Entahlah Remus, aku tak begitu mencintai anjing,”jawabku ragu.

“Sirius!!! Demi Tuhan kunjungi Madame Pomprey sekarang akhir-akhir ini kau sering pucat,”Weez menyelak setengah berteriak.

“Selamat pagi kalian semua,”ujar Dumbledore menghentikan keributan kecil di alua besar. Sebagian dari stafku ingin menyampaikan sesuatu. Silakan Minerva.”

“Aku lebih suka menyampaikannya secara pribadi. Ms Virgin kurang 100 poin buat Ravenclaw karena melanggar jam malam serta merusak properti sekolah. Dan kurang 50 poin buat Ms Weezer karena menyelinap keluar sekolah malam-malam.” Meja Ravenclaw dan Griffyndor menjadi ribut.

“Tenang- tenang, aku juga ingin menyampaikan sesuatu aku akan memberi 100 poin buat Ms Virgin karena membantuku melawan pelahap maut.” Madame Hooch menambahkan dan kemudian disambut tepuk tangan meriah dari meja Ravenclaw.

“Tak ketinggalan masing-masing 50 poin buat Ms Virgin dan Ms Weezer karena keberanian dan ketulusannya membantu teman yang membutuhkannya. Juga 100 poin buat Ms Flamel karena keteguhan hatinya mempertahankan
Sorcerer’s Stone tidak jatuh ke tangan Voldermort.”Seluruh ruangan berjengit.

“Seperti kita ketahui Sorcerer’s Stone adalah hasil temuan sahabatku yang juga seorang ilmuwan sejati Nicholas Flamel. Ini adalah temuan paling penting dan berharga sepanjang sejarah yang harus selalu dijaga. Akan berakibat buruk jika jatuh ke tangan yang tak bertanggung jawab. Sebagai tambahan Ms Flamel sudah dua kali dengan berani menghadapi langsung Voldermort. Jelas menjadi terkenal tidak selamanya menyenangkan seperti yang kalian pikirkan,”Dumbledore mengedipkan matanya pada Hestia.

Yes Ms Virgin,” Dumbledore baru saja akan kembali duduk, ia mempersilahkan Ika berbicara.

“Apakah ini berarti saya masih bisa bermain Quidicth,”Ika melirik ke arah Madame Hooch penuh harap. Madame Hooch mengangguk mantap.

Semua siswa Ravenclaw menatap Ika tak percaya. Mereka hampir saja kehilangan 100 poin yang sudah susah payah dikumpulkan buat piala asrama dan yang dipikirkan oleh orang yang menyebabkan poin tersebut hilang hanya Quiditch.

Oh, siapa yang peduli dengan piala asrama?”Ika menjawab tatapan mereka.

Kamiiiiii,” mereka mendesis bersamaan.

Part 11 : Duel Sungguhan

Posted in Tak Berkategori on Desember 3rd, 2009 and

“Sembunyikan Hestia?” bisikku kepada anjing hitam besar. Anjing itu mengeser Hestia ke balik kayu besar. Dan aku menutupinya dengan daun-daun sebisaku. Suara orang ber-apparate mulai berdatangan. Aku tak berhenti menghitung. “Kau pergi cari pertolongan.”

Anjing ini keras kepala ia tak mau bergerak. “Kau tahu temanku cucu penyihir hebat, Hanya orang sekelas pangeran kegelapanlah yang berani menyentuhnya. Dan percayalah ini bukan pertama kalinya terjadi. Tolonglah kalau kau mengerti larilah ke Hogwarts atau Hagrid secepat kau bisa.”

Suara dentuman apparate berhenti pada hitunganku kelima digantikan suara langkah orang. “Cepaaaat kau bisa berlari cepat aku akan menahan mereka hingga bantuan datang. tolonglah.”

Anjing tersebut berlari seperti orang gila. Satu menit kemudian muncul empat pelahap maut. Aku langsung mengirimkan signal kilatan merah ke angkasa berharap bantuan dari Hogwart. Langit di atasku memerah darah.

“Avada Kedavra!” seorang pelahap maut meluncurkan kutukan mematikan aku meloncat ke kiri, hampir saja.

“Kau akan mati bocah sialan, aku bunuh kau!”suara seorang perempuan muda menggelegar. Aku rasa usia kami tak terpaut jauh.

“Tidak jika aku membunuhmu duluan,”tantangku

Mereka berempat tertawa bersamaan. “Gadis kecil ini pikir dia bisa mengatasinya sendirian. Pasti kau adalah salah satu siswa Griffyndor bodoh! Nyalimu akan membuatmu mati konyol,” salah satu pelahap maut lainnya membuka mulut. Suaranya tenang dan terdengar sangat elegan. Ia berambut pirang. Dari aksennya aku tahu ia pasti keluarga penyihir kaya. Tapi sulit sekali mengenali mereka sebab, mereka mengenakan topeng.

————————————————————————————————————————-

Hogwarts

“Hestia! itu pasti kau?” Ika tersentak melihat kilatan merah yang berasal dari hutan terlarang. Ini buruk aku harus segera menemui Weez.

Ika meraih sweeter secepatnya, ia bahkan masih mengenakan celana tidur serta selop tidur kucing berbulu berlari ke arah luar. Di koridor ia bertemu dengan Flich.

“Ha, ha! kena kau?Kali ini kamu akan keluar dari sekolah ini. Aku muak dengan tingkah kamu dan temanmu nona terkenal itu,”Flich terdengar senang.

“Aku tak punya waktu untuk ini Flich!,” Ika mengeram marah.

“Accio sapu,” teriak Ika.

Professor Flitwick sudah berada tepat di depan hidung Ika saat sapu Weez menghampirinya. Ika langsung lompat dan terbang meninggalkan mereka.

Sesampai di koridor utama Prof Mcgonagall berteriak “Berhenti Ms Virgin!Kau dan Ms Weezer akan mendapat detensi.”

“Bagus Weez juga sudah terbang menuju hutan terlarang,” batin Ika.

“Kau bisa memberiku detensi Professor jika kau bisa menangkapku,”ujar Ika lantang.

Ika tahu kali ini karir akademisnya benar-benar tamat, tapi saat ini dia tak punya waktu menjelaskan kepada staf pengajar. Hestia dalam bahaya. Hanya ini satu-satunya cara membuat mereka mengikutinya ke tempat Hestia.

Prof Mcgonagall mengunci pintu utama. “Alohomara,”teriak Ika dan pintu tak terbuka. Ika langsung menerbangkan sapu menukik ke atas dan menabrak kaca keras-keras.

Saat di luar Madame Hooch sudah berada di belakang mengejar Ika,“Kembali Ms Virgin atau kau akan menyesal. Jika kau tak kembali aku akan membuatmu melupakan Quiditch selamanya. Bahkan kau tak bisa menyebut kata Quiditch!”

Ika terus terbang melesat. Ia bersyukur Weez memiliki sapu komet 12 terbaru. Dengan ini akan mudah meninggal Madame Hooch jauh di belakang.

————————————————————————————————————————-

Aku harus berlari zigzag berguling untuk menghindari letupan-letupan sinar hijau. Empat orang pelahap maut ini tak memberi kesempatan padaku melawan baik. Ternyata tidak semuanya hebat. Gadis itu terlalu amatir buat duel. Tiga orang ini yang aku takutkan dua kali aku hampir mati di buatnya.

Hestia bangkit, ia berdiri dengan satu kaki. Aku melihat matanya tajam. bibirnya mengatup rapat menahan sakit. Ia membuat gerakan-gerakan lembut dari tongkatnya. Entah apa yang ia ucapkan tapi ia membuat ranting-ranting berterbangan ke arah pelahap maut. Batu-batu menjadi prajurit yang menyerang maju menghantam pelahap maut.

Aku ingin berteriak hentikan Hestia! Tapi saat ini bantuannya adalah hal yang paling aku syukuri dengan begitu aku bisa menghindari kutukan mematikan yang dilemparkan sembarangan oleh gadis gila ini.

“Silex Silicis,” Ika muncul dan membuat seorang pelahap maut yang bertubuh besar berubah menjadi batu. Patung batu yang jelek tepatnya. Dan ia menggeram marah tak bisa bergerak

“Pesta yang menyenangkan Hestia,”Ika membungkuk seolah memberi salam pada tuan rumah.

“Cukup basa basinya. Singkirkan cewek gila ini dariku,”teriak Weez. Ika berdiri acuh tak acuh.

“Hello!!! aku perlu bantuan di sini,”Wez berteriak sambil menunduk menghindari kutukan avada kedavra dari pelahap maut perempuan sinting yang bertebrangan di sekitar kepalanya. Ika masih berdiri menonton pertandingan yang seru. “Pleeeeease,” Weez mejerit sekali lagi.

“Baiklah Weez, dengan senang hati! Kau jangan bergerak kecuali perlu,”perintah Ika pada Hestia.

Hestia langsung jatuh duduk. Dan meringis kesakitan. Keringatnya bau amis. Jelas sekali keringat dan darah bercampur jadi satu. Kepalanya kembali terasa pening sekali. Ia terlalu sakit bahkan untuk menangis.

“Evolo Casus,” Ika melayangkan mantra kepada gadis sinting yang di maksud Weez. Gadis itu melayang di udara dan terpelanting jatuh ke tanah.

Kali ini Wezz bisa berdiri dan menyerang dua pelahap maut lainnya. Satu pirang, satu lagi berambut ikal coklat.

“Bagus sekarang kita bisa berduel layaknya ksatria,”ujar Weez dalam hati.

Weez menyerang dua pelahap maut tersebut tanpa ampun. Ia melemparkan mantra demi mantra dengan cepat. Pelahap maut tersebut tak punya kesempatan melempar mantra balik. Mereka terlalu sibuk menghindari atau menangkis Weez.

“Sampai berapa lama kau tahan menyerang kami seperti orang gila gadis kecil, “ ujar pelahap maut berambut ikal coklat dengan aksen Eropa timurnya yang kental.

“AKU BUKAN GADIS KECIL!!! DAN KAU BENAR AKU GILA. ORANG GILA TAK KENAL LELAH TAHU!!”

“Tarantallegra.”Pelahap maut berambut coklat itu tak sempat meng-counter mantra tersebut hingga ia menari bagai orang gila. Mantra tersebut membuat kakinya bergerak tanpa henti.

“Crucio” Pelahap maut pirang menyerang Weez dengan kutukan tak termaafkan tapi terlambat. Weez hanya berjengit sesaat kemudian meng-counternya.

“Haduuuuuh, kalian ini kurang kreatif. 3 kutukan dari siapa lah itu namanya yang terlalu buruk hingga tak boleh disebut, basi tauk. Kalian pikir kami tak belajar meng-counternya. Dan kau pasti anak baru. Sungguh amatir.”Weez meledek si rambut pirang.

“Avada kedavra,” Si pirang terlihat marah. Weez sudah menghindar. “Cuma itu yang kau bisa keledai dungu,”Weez makin geli.

“PETRITICUS TOTALUS,” ujar si pirang marah. Tubuh Weez terbujur kaku.

—————————————————————————————————————————-
“Kurang ajar kau darah lumpur,”erang gadis sinting. Ia menjerit marah sekaligus kesakitan. Tangan kanannya patah.

“Dan kau tahu, lumpur ini yang akan membuatmu tersedak hingga mati,”Ika membalas dengan sengit.

“Locomotir mortis,” Ika menyerang cewek pelahap maut dan kakinya terikat tak bergerak.

“Kubunuh kau,” teriaknya geram.

“Iya, iya aku dengar. Geez tak usah berteriak. Dari tadi hanya mantra avada kedavra yang kau bisa. Tapi sayang itupun kurang kau kuasai. Ada apa sayang ? Apa Hogwarts mengeluarkanmu karena kau terlalu bodoh?. Oh aku tahu! Kau pasti keturunan troll menyedihkan. Saking menyedihkannya hingga pangeran kegelapan merasa kasihan dan mengangkatmu menjadi hewan peliharaannya. Mengajarimu membunuh. Sayang sekali, sampaikan pada tuanmu dia jelas-jelas gagal,”Ika mengejek gadis gila yang sekarang tak bisa bergerak.

“Kau bisa menyampaikannya secara langsung padaku,” Seorang yang dari tadi hanya diam. Saat ia melangkah seolah angin berhenti. Tatapannya tajam dan kejam, sekaligus menawan. Dengan satu gerakan halus tanpa mengerakkan bibir ia membebaskan pelahap maut berambut coklat dari mantra tarantallegra. Dan memberi isyarat pada lainnya untuk berhenti.

“Baiklah, kau gagal,”ujar Ika. Orang yang dimaksud menggeram keras.

Aku akhirnya berhasil melepaskan diri dan bergerak. Aku berlari ke arah Hestia, meraihnya. Tubuhnya sangat dingin. Mukanya pucat kehabisan darah. Aku harus membawanya pergi dari sini.

Pangeran kegelapan menatapnya tajam. Ika berdiri menatap balik tajam.

“Mmmm Dumbledore mengajarkan kau dengan baik darah kotor,”gumamnya.

“Terima kasih,”Ika menjawab dengan sopan.

Voldemort sang pangeran kegelapan tertawa yang diikuti para hamba setianya. “Kau pikir ini pujian,” ujarnya sinis

“Oh, maaf kalau aku salah. Habis terdengar seperti itu,”balas Ika sinis.

“Tutup mulutmu kau tak tahu dengan siapa kau bicara!!!” Gadis sinting itu kembali bicara.

“Kau yang diam goblok!!! Masih berani bicara, mengucap mantra saja tak becus!Dan kalian laki-laki bertiga menghadapi dua cewek saja tak sanggup.”

“Sekarang kita lihat apa kau sanggup menghadapiku,”sanggah Voldemort yang langsung mengangkat tongkatnya membuat Ika menjerit kesakitan. Dan yang lainnya tertawa.

Aku mencoba menghentikan Voldemort, tapi ia sudah langsung melucuti tongkatku dan mengambilnya. Kemudian menghancurkannya

“Lawan Ika, Kau bisa!!!” Aku berteriak putus asa. Tanpa tongkat apa yang bisa kuperbuat. Ika terus menjerit kesakitan. Tubuh Hestia makin dingin, aku tak bisa merasakan nafasnya. Hestia jangan sekarang. Aku mencoba menarik tongkat dari tangan Hestia. Tapi ia mencengkramnya kuat-kuat.

Pelahap maut tertawa senang. Ika diperlakukan seperti binatang permainan. Aku tak tahan mendengarnya apalagi melihatnya menjerit kesakitan. Aku hampir saja akan mematahkan jari-jari tangan Hestia dan merebut tongkatnya.

“JANGAN BERANI-BERANI MENYENTUH MURIDKU,”Proffesor Mcgonagall muncul

Ia langsung maju menyerang Voldemort secara membabi buta. Aku belum pernah melihat pertandingan duel sehebat ini. Mcgonagall VS Voldemort adalah sebuah duel terhebat yang pernah aku saksikan bahkan bayangkan.

Madam Hooch turun dari atas sapu dan melayani para pelahap maut. Ika bangkit dengan tubuh gemetaran membantu madam Hooch. Mereka masing-masing mengatasi dua pelahap maut sekaligus. Aku langsung meraih sapuku dan membawa Hestia terbang menuju rumah sakit sekolah.

“Bertahanlah Hestia kita pulang. Kau aman sekarang.”

Part 10 : Patronus Hidup

Posted in Tak Berkategori on Desember 2nd, 2009 and

BY : Madame Penyu

Hogwarts menjadi tempat yang luar biasa menyebalkan setelah pemberlakuan jam malam. Bayangkan aku hanya dapat berbicara dengan Ika saat pergantian jam pelajaran, menjelang atau sesudah makan siang.

Proffesor Mcgonagall bisa mengecek kamar siswa hingga 16 kali setiap malam. Belakangan ini bibirnya lebih sering mengerucut. Dan dia mulai menerapkan peraturan yang aneh. Seperti tidak boleh mandi usai pukul tujuh malam. Ke kamar kecil tidak boleh lebih dari 10 menit dan larangan kelas berjalan-jalan sendiri.

Satu lagi yang paling bikin stres, tiap malam Flich keliaran keliling Hogwarts bersama Dumbledore. Ini membuatku makin mustahil menyelinap ke perpustakaan atau asrama Ravenclaw.

Aku menyesal kenapa tak ada jadwal pelajaran yang sama antara Griffyndor dan Ravenclaw. Kenapa selalu bersama Slytherin. Buatku tak masalah sih, bertemu hidung bengkok setiap saat tapi, Ika jauh menyenangkan.

——————————————————————————————————-

“Pasti akan lebih menyenangkan kalau kita seasrama,” Weez menghela nafas sambil membanting kartunya. Hestia mengangguk sambil membantu Ika merapikan kartu yang berserakan.

“Giliran siapa?” tanya Hestia pada Ika.

“Kamu, sekarang aku 2 dan Weez 5,” balas Ika.

Ika baru saja mengajarkan aku dan Hestia permainan truf 259. Buatku permainan kartu muggle sangat menarik. Pertama gambarnya hanya diam tak bergerak. Sungguh sangat menggangu melihat gambar yang hidup tiap saat. Selanjutnya, aku senang akhirnya mengetahui bahwa ada kegunaan kartu selain buat meramal.

“Kalau kita seasrama berarti Griffyndor. Karena aku tak yakin punya kualitas Ravenclaw,”Hestia berkata sambil membagikan kartu.

“Bicara soal kualitas, menurutku kalian yang harusnya Ravenclaw. Otak kalian encer dan aku yang tak punya kualitas Griffyndor. Aku bukan pemberani. Trufnya Hestia?” Ika menjawab sambil menyusun kartunya.

“Spade,” jawab Hestia sambil menukar kartu sisa kemudian mendesah keras. Weez dan Ika senang karena Hestia baru saja membuat kesalahan menentukan kartu truf.

“Omong kosong!!! Setahu aku, kau satu-satu siswa kelas satu yang tak menjerit melihat Baron Berdarah. Jangan tersinggung, kau bukan keturunan penyihir dan kurasa kau tak pernah mendengar nama Hogwarts sampai surat itu datang,” Wezz berkata sambil menghitung kartu sambil membongkar kembali kartu yang sudah keluar.

“Hentikan Weez! Itu namanya menggali kuburan. Dan tindakan itu sama dengan curang,” protes Ika.

“Aku takut rasa sakit, Aku benci kesakitan,” Ika menambahkan.

“TAK MUNGKIN?!?! Lalu ngapain kamu bergabung dengan tim Quiditch, itu olahraga yang paling brutal. Dan mulai sekarang kau harus melupakan klub duel. Akan ada banyak rasa sakit di sana,”Hestia menjelaskan.

“Aku lebih baik keluar dari sekolah ini kalau tak bisa bergabung di Quiditch. Justru rasa takutku itu yang membuatku jadi lebih hati-hati, berpikir dan berlatih keras agar mahir dan tak mudah terluka,”Ika menjawab dengan santai.

Weez dan Hestia saling bertatapan tak percaya. Mereka tahu pasti, saat di atas sapu terbang Ika jauh dari terlihat hati-hati.

“Setidaknya ada satu kelas kita belajar bersama. Aku heran kenapa harus ada pembagian Griffyndor dengan Slytherin dan Ravenclaw dengan Hufflepuf,”Ika melanjutkan pembicaraan sambil mengumpulkan kartu. Sekarang giliran Ika yang menentukan kartu truf.

“Tentu saja itu tak mungkin terjadi,”Hestia buka mulut sambil membantu mengumpulkan kartu di meja.

Ika dan Weez bingung secara bersamaan mengeluarkan pertanyaan “Mengapa?”

Hestia menegakkan duduknya yang sudah tegak dan menyentuh ujung rambutnya. Sesuatu yang ia lakukan jika ingin menjelaskan sesuatu.

“Kita tahu pemilihan asrama berdasarkan kualitas siswa yang diinginkan para pendiri,” Ika dan Weez mengangguk tak sabar.

“Gryffindor memilih pemberani, Slytherin ambisius, Ravenclaw memilih yang terpintar sedangkan Hufflepuf pekerja keras,” Hestia menarik nafas.

Nah, pembagian kelas seperti sekarang masuk akal. Sebab sang pemberani harus belajar dari yang ambisius. Agar keberaniannya tak konyol. Punya tujuan jelas. Sebaliknya, buat yang ambisius bisa belajar tentang keberanian serta tidak selalu mementingkan diri sendiri.”

“Kemudian yang terpintar bisa belajar dari para pekerja keras. Karena mau tak mau kepintaran sendiri tak akan berarti apa-apa tanpa usaha. Sedangkan para pekerja keras dapat belajar jika ia mau berusaha mereka bisa jadi pintar,” Hestia menjelaskan dengan cermat.

Mendapat tatapan kagum teman-temannya ia langsung mengoreksi.“Oh, ayahku yang menjelaskannya. Aku tentu tak berpikir sejauh itu.”

——————————————————————————————————————–

Malam ini mataku tak mampu terpejam. Sesekali aku melihat tempat tidurnya yang kosong. Biasanya tiap malam sebelum tidur kami selalu bermain kartu bersama. Ternyata ada banyak sekali jenis permainan kartu muggle dan beberapa lebih asyik dimainkan dengan taruhan.

Hestia adalah lawan yang menyenangkan sekaligus mudah dikalahkan. Aku bisa menang dua Galeon dalam semalam jika melawannya. Seperti 3 malam yang lalu sebelum ia menghilang, aku menang 3 galeon 15 sickle dan 8 knut.

Biasanya uang kemenangannya itu aku pakai untuk mentraktirnya butterbeer. Ia terlihat senang dan mengucapkan terimakasih berkali-kali. Aku selalu saja geli melihat tingkahnya. Padahal kalau dipikir-pikir itu uangnya sendiri.

Aku tak ingin berpikir siapa, bagaimana dan kapan tepatnya Hestia diculik. Kenyataan dia hilang kan? Ruangan ini terasa berbeda tanpanya.“Sialan kau Hestia, kenapa harus hilang. Kau tak mungkin hilang! Kau pasti hanya tak ingin ditemukan. Kau pasti kembali. Pasti!” Weez meyakinkan dirinya.

Lebih mudah meyakini Hestia pergi daripada diculik. Karena jika itu terjadi. Hanya ada satu orang di dunia sihir yang cukup gila serta mampu melakukannya. Ah, memikirkannya saja bikin aku merinding.

Weez keluar dari tempat tidur mengambil jaket, mengenakan jeans dan sepatu kedsnya. Ia mengendap-ngendap membuka jendela dan menjelma menjadi burung parkit.

“Aku akan menemukanmu Hestia. Dan akan kutampar kau. Kapan sih, kau pernah belajar. Tidak semuanya harus tentangmu,”batin Weez. Dan dia hampir saja menabrak phoenix di angkasa. Weez percaya phoenix menatapnya tajam dalam beberapa detik.

Ah,sama saja dengan tuannya. Tatapannya seolah bicara. Apakah dia tahu kalau ini aku? Kira-kira dia akan memberitahu bosnya nggak ya? Kalau sekolah tahu ada seorang animagus tak terdaftar, mereka akan mengirimku ke Azkaban.”

Aku pasti sudah terbang terlalu jauh ke dalam hutan terlarang. Melewati sekelompok centaurs, lalu melihat seekor pegasus.

Mataku tertumbu pada sebuah syal merah Gryffindor di bawah bergerak. “Hestia?!?!” Aku langsung terbang menukik turun ke bawah. Satu meter sebelum sampai di tanah aku kembali menjadi manusia.

Hebat syal itu digigit seekor anjing hitam besar. Setahuku anjing tidak makan manusia. Lalu apakah binatang ini yang melukai sahabatku. Sialan akan aku bunuh kau? Di luar dugaan ia melepaskan syal itu dan meletakannya di tanah. Memberi isyarat aku mengambilnya.

Wangi Citrus dan lemon menegaskan bahwa itu miliknya. Hestia punya kegilaan tersendiri pada aroma buah..“Kuharap bukan kau pelakunya. Kau terlalu jinak dibandingkan penampilanmu yang sangar. Siapa tuanmu? Meski seram aku rasa, kau anjing peliharaan?”

Bagus, sekarang aku kedinginan ditempat terlarang dan berbicara dengan anjing. Mungkin aku harus mengunjungi St Mungo sekadar jaga-jaga? Ika sering mengatakan aku sinting. Hei, kalau ternyata itu benar. Aku harus jadi orang pertama yang tahu.

“Dimana kau temukan ini?” sekali bertanya kepada anjing. Oke, aku resmi menjadi gila beneran. Apa yang ada di otakmu Weez bertanya dengan anjing. Anjing itu berjalan melewatiku, lalu memintaku mengikutinya.

“Ini sungguh tidak adil! Kenapa kau dapat mengerti ucapanku sedangkan aku sama sekali tak mengerti bahasamu hmmmpt” gerutuku kesal mengikuti anjing ini melangkah.

“Kau pasti sangat jelek hingga tuanmu membuangmu di bagian terdalam hutan terlarang,” si anjing hitam itu mengggeram marah.“Oh kau tersinggung? Jadi kau benar-benar mengerti bahasa manusia yah?”

Sang Anjing berhenti dipinggiran sungai. Duduk lalu berputar-putar di pinggir sungai.“Di sini? Kau menemukannya di sini?” Aneh?!?! Temanku pemilik syal ini, adalah seorang perenang handal dia tak mungkin hanyut.”geramku putus asa.

“Kecuali ia terluka parah dan terjatuh ke sungai.” Aku terduduk lemas di pinggiran sungai. Bintang-bintang sangat indah dari sini. Rasanya, anjing ini aku pernah melihatnya.

Hah! Patronusnya Hestia!!! Aku tak tahu kalau patronus bisa berubah menjadi nyata. “Kau patronus Hestia? Aku tahu sekarang! Bagaimana mungkin?!?!” Garuk-garuk kepala tak memercayainya.

Aku baru saja akan menyusuri sungai ini mencari Hestia. Anjing tersebut menggigit jaketku dan menarik-menariknya “Hentikan! Kalau kau merusaknya akan kupecahkan kepalamu!” Ancamku. Dia tetap menarik-narik mencoba menghalangi aku menyusuri sungai.

“Biar kutebak kau sudah mencarinya?”tanyaku padanya. Anjing itu mengangguk mantap.

“Bagaimana mungkin kau mengenalnya. Mengenal Hestia temanku. Oh, aku lupa kau patronusnya. Tentu saja kau mengenalnya?”Kami terdiam dan mendongak ke angkasa.

“Bintang, dia sangat menyukai bintang. Kau tahu ia mungkin satu-satunya orang yang kukenal hapal seluruh gugusan bintang.”

Lalu aku jatuh tertunduk dan mencabuti rumput di tanah dengan kesal. Ada rasa yang seolah ingin meledak keluar dalam dada ini. Marah, kecewa, sedih, kehilangan semuanya ada di sana berontak ingin keluar.

“Lagipula apa sih yang kau tahu anjing jelek!!! Aku akan menyusuri sungai ini mencari sahabatku dan aku akan menemukannya. Jangan coba-coba menghalangiku atau kutendang kau!!!”

Tiba-tiba aku mendengar sebuah bunyi dentuman kuat. Dan terakhir kali aku tahu, Hestia muncul melalui sebuah portkey entah dari mana berlumuran darah.

Aku tahu kalung emas ular yang di genggamnya adalah sebuah portkey. Aku mengambilnya dari tangan Hestia dan melemparkannya jauh-jauh.

“Hestia, kita harus pergi dari sini sekarang!!!” Aku berusaha menggotong tubuhnya. Tapi ini mustahil. Hestia sedikit lebih tinggi dan lebih gempal. Kalau ia melarikan diri dari siapapun, pasti orang itu akan mengejarnya. Lebih baik kalau bukan orang yang aku pikirkan.

Paha Hestia sobek dan pergelangan kaki kirinya bengkak. Jubahnya penuh dengan darah kering. Itu pasti berasal dari luka yang lain. Aku terus berusaha mengangkatnya tapi sia-sia.

“Regulus,”ujar Hestia lemah. “Regulus.”dia mengulangi nama itu berkali-kali.

“Hestia jangan bicara, ayo kita pergi. Aku tahu ini berat tapi kita dekat dengan sekolah,”kataku berbohong.

Anjing besar itu menggigit kerah Hestia adan menyeret tubuhnya. Buat ukuran Anjing, ia sangat kuat. Aku mengeluarkan tongkat sihir dan dalam posisi siaga dan konsentrasi penuh.

Tak berapa lama, aku mendengar bunyi orang ber-apparate satu, dua, tiga, dan lima. Lima orang beraparate. Seperti yang kutakutkan para pelahap maut. Sial! Aku masih terlalu jauh dari Hogwarts. “Baiklah satu lawan lima. Ini akan jadi pertarungan yang hebat.”

Part 9 : The Sky Definetely Not The Limit

Posted in Tak Berkategori on Desember 1st, 2009 and

BY: Madame Penyu

“Albus apakah saatnya kita mulai khawatir? Murid tidak tiba-tiba menghilang di Hogwarts. Tidak dengan semua penjagaan sihir selama ribuan tahun. Ini seharusnya menjadi tempat teraman di dunia,”ucap Mcgonagall gusar.

“Kecuali siswa yang melarikan diri dari sini. Tapi itu juga tak mungkin? Kita pasti akan mengetahuinya dengan mudah,” Flitwick menimpali.

“Ini akan jadi sebuah berita besar. Siswa hilang di sekolah. Dunia akan gempar. Kementrian sihir pasti akan mengejarmu Albus. Mereka akan menuntut penjelasan,”Darcy yang mengajar Pertahanan Terhadap Ilmu Sihir tak ketinggalan ikut bicara.

“Remus dan kawan-kawan, mereka tak berhasil menemukannya?” tanya Dumbledore tenang kepada Mcgonagall yang dibalas dengan desahan nafas panjang penuh sesal.

“Menurutku Hestia di culik, Minerva tulis surat kepada Edward dan Selena. Minta mereka datang menemuiku. Gunakan phoenix, ia bisa menemukan mereka. Bagi kepala asrama, malam ini kita berlakukan jam malam. Kumpulkan para prefek. Perintahkan mereka mengawal anak kelas satu kembali ke asrama usai makan malam,”perintah Dumbledore serius.

“Aku masih tak percaya pelahap maut mampu menembus Hogwarts,” proffesor Darcy berujar shock.

“Tentu saja kau benar Darcy. Mereka tak akan mampu menembus Hogwarts meski seluruh kemampuan mereka digabungkan,” sanggah Dumbledore.

“Lalu siapa? Bahkan pangeran kegelapan sendiri tak sanggup menembusnya,”Mcgonagall mulai tak sabar.

“Aku takut iya,” Dumbledore menatap seluruh stafnya tajam. Ruangan menjadi sangat sunyi. Tak ada yang bicara bahkan tak satupun berani membuat gerakan termasuk lukisan di dinding.

Oh, tak mungkin! Apakah ia makin hebat Albus?” Mcgonagall memecah keheningan. Ia terlihat sangat gusar, professor Sprout berusaha menenangkannya dengan menepuk bahunya.

Ia sangat mengerti perasaan Minerva Mcgonagall saat ini. Tentu saja semua kepala asmara akan mengerti jika siswanya hilang di bawah hidungnya. Kalau itu terjadi padanya, Professor Sprout tak yakin akan bisa bersikap setenang Minerva saat ini.

“Kurasa, ia bisa melakukannya sejak dulu jika ia mau. Dengan akal ditambah kemampuaannya aku tak akan terkejut ia menemukan cara menerobos masuk ke sekolah. Tapi ia tak akan pernah berani mengacak-ngacak sekolah ini,” tegas Dumbledore.

“Tentu saja karena ada kau,” Slughorn berkata dengan mantap.

“Bukan aku, tapi Hogwarts adalah rumah pertama dan satu-satunya rumah baginya.”

“Tapi tak ada salahnya kita berjaga-jaga. Besok kita lanjutkan pembicaraan ini. Kita akan tingkatkan penjagaan sekolah. Kita gunakan semua yang kita bisa mengamankan sekolah ini. Para pendiri sendiri sudah menjaganya dengan sempurna. Tambahan sedikit penjagaan sihir tentu tak akan masalah,”Dumbledore berbicara seperti orang melantur.

“Baiklah saat ini kita harus melakukan hal yang terpenting, makan malam,” Dumbledore menanmbahkan dengan tenang. Lalu mengiring stafnya keluar ruangan kepala sekolah.

—————————————————————————————–

Lapangan Quiditch : 2 jam sebelum makan malam

Ika berlari memasuki lapangan Quiditch saat Gryffindor sedang berlatih. “Aku tak tahu kalau kau se-desperado itu darling?” James terjun meluncur menghampiri musuh bebuyutannya. Saat yang bersamaan Remus berlari menghampiri Ika diikuti Sirius dan Peter.

Ika mengerutkan dahi tak mengerti. James memberi isyarat team-nya sedang berlatih. “Oh, bukan itu James. Tentu saja aku tak akan serendah itu mengintip taktik kalian. Berhubung kau di sini. Tolong sampaikan pada Weez aku akan menunggunya di luar stadion. Penting! Dan James, BERHENTI MEMANGGILKU DARLING!!!”

“Kuharap Nenekmu meninggal, Karena cuma alasan itu yang dapat aku terima,” sapa Weez santai sambil ikut meluncur turun dari sapu.

“TIDAK LUCU WEEZ !!! DAN KAU AKAN MEMBAYARNYA,” Ika mencabut tongkatnya.

Gerombolan kepala besar mundur beberapa langkah. Kalau ada yang paling mereka tak inginkan adalah berada satu tempat jika terjadi duel antara tiga serangkai.

James dan yang lainnya tak ingin mengakui meski dalam hati atau bahkan dalam impian terliar mereka, kalau mahluk-mahluk cantik di hadapan mereka ini jago duel. Mereka gesit, tangkas, cekatan dan tak suka kalah. Percayalah jika hal itu terjadi, akan terjadi dalam waktu yang cukup lama. Hingga tak ada yang sanggup berdiri atau terkapar di Rumah Sakit.

Bahkan James hampir yakin kalau hanya faktor luck-lah yang membuat ia dan teman-temannya bisa menang melawan cewek-cewek ini. Dan tentu saja mereka tak akan pernah bertindak bodoh untuk mencari tahu.

Masih segar dalam ingatan James dan seluruh siswa Hogwarts, tahun lalu saat Ika dan Hestia berduel. Lebih tepatnya, berusaha saling membunuh. Dan Weez yang berada di antara mereka berusaha melerai malah terlibat pertengkaran pula. Mereka bertiga saling menyerang. Butuh dua professor buat melerainya dan pinggiran hutan telarang terbakar habis. Kejadian ini menyebabkan beberapa hewan peliharaan Hagrid ( baca satwa liar) terluka.

Karir akademis mereka hampir saja tamat kalau saja Dumbledore tidak sinting. Ia memberikan detensi kepada Weez dan Ika melarang mereka bermain Quiditch bahkan menyentuh sapu selama satu semester.

Griffyndor kehilangan keeper handal yang susah di tembus. Tak cukup sampai di situ Weez dan Ika harus membantu merestorasi bagian hutan yang rusak dan merawat satwa liar. Ika harus kehilangan kuku cantiknya serta team-nya menanggung kekalahan telak.

Sedangkan Hestia, ia harus membersihkan seluruh ruangan dan WC Hogwats dengan cara muggle. Menyikatnya dengan sikat muggle hingga mengkilat. Tak jarang James mendengar Hestia menggosok sambil menangis. James yakin Hestia tak membutuhkan air menggosok kamar mandi. Jangankan membersihkan WC dengan cara muggle. Ia berani mempertaruhkan ke dua bola matanya kalau Hestia belum pernah membersihkan bagian manapun dari rumahnya dengan mantra sihir sekali pun.

Weez bersiap mencabut tongkatnya. Ia tahu, ia salah tapi menolak tantangan duel bukan sifatnya.

“Minta maaf Weez sekarang,”teriak Sirius yang berlari menubruk Weez, merebut tongkat sihirnya lalu melemparkan ke arah James. James dengan tanggap meraihnya. Ada satu hal yang ia tahu pasti tentang musuh bebuyutanya: Ika tak akan menyerang orang yang tak bersenjata.

Tubuh Weez yang mungil hampir tak kelihatan tertindih tubuh tinggi besar Sirius yang tak berniat melepaskannya.

“Leeh-paa-aas-kan aah-kuh- Sih-riii- huss” ujar Weez terbata-bata melawan himpitan tubuh Sirius yang membuat dadanya sesak.

“ KAU DENGAR ?!?! LEPASKAN DIA SIRIUS!!!!” Ika makin tak sabar. Kali ini tanganya bergetar menahan marah.

“TIDAK!!! Kecuali kau menurunkan tongkat sihirmu dan kau Weez minta maaf,”ancam Sirius.

Weez yang mulai kehabisan nafas menendang selangkangan Sirius keras. Sirius melepaskan cengkramannya dan meringkuk sambil meringis kesakitan. James dan Remus ikut meringis melihatnya tapi tak bergerak dari tempat mereka berdiri.

Weez berdiri menghampiri Ika. James menahan nafas dan menyembunyikan tongkat Weez dibalik jubahnya. Ia berpikir lebih baik menelan seribu keong berlendir daripada menyerahkan tongkat itu saat ini.

“Oke, Oke, aku mengerti. Aku keterlaluan. Geeez, Ika maafkan aku. Aku memang berengsek. Kau tahu aku tak bersungguh-bersungguh. Demi Tuhan sudah berapa lama sih, kita berteman?”

“Dan kau harusnya tahu bahwa nenekku adalah segalanya buatku. Memikirkan hal itu saja aku tak sanggup,” kali ini Ika menangis tersedu-sedu dan Weez memegang bahunya kuat.

James Potter sekarang bisa bernafas lega. Kalau tadi ia tak ingin berada di tempat ia berdiri sekarang. Kali ini sebaliknya, ia tak ingin berada dimanapun selain di sini.

Menyaksikan atlit putri paling handal dan perempuan paling cerdas (selain Lily) juga tangguh yang pernah ia temui berurai air mata. Ia terlihat sangat rapuh. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat langka. Selangka komet Halley yang hanya muncul setiap 76 tahun sekali. James baru saja akan menghampiri Ika dan bertindak pahlawan menghiburnya.

“Kalau kau berani menyinggung hal ini sekali saja aku akan membunuhmu!”Ika berdesis keras ke arah James yang langsung mengurungkan niatnya.

“James kau bisa memberikan tongkatku sekarang,”pinta Weez. Tak yakin ingin memberikan, James melirik ke arah Ika. Ika mengendurkan tampangnya yang kencang dan mengangguk memberi isyarat damai. James pun melemparkan tongkat itu kepada sang empunya.

Weez menangkapnya, lalu balik badan menghampiri Sirius yang masih meringkuk di tanah. Membantunya berdiri. “Sorry, tapi aku harus melakukannya kalau aku tak ingin mati kehabisan nafas. Aku cuma memyelamatkan nyawaku,” ujar Weez kepada Sirius yang terlihat masih meringis.

Masih merasa tak enak Weez melanjutkan, “Kau benar-benar tak apa-apa?”. Sirius menjawabnya dengan anggukan. Yakin Sirius tak apa-apa Ia berbalik ke arah sahabatnya.

Ms Virgin, Shall we?” ujar Weez lantang, tegas dan mengambil kuda-kuda siap berduel. Ika menyambut dengan anggukan mantap.

“Aku tak percaya?!?!” ujar James.

“Kalian tak bersungguh-sungguh, kan?” Remus menjerit sama tak percayanya dengan James. Peter mencicit panik.

“Expeliarmuss!” serang Ika. Tongkat Weez terlempar yang langsung membuat Weez berlari sekuat tenaga mengambil tongkatnya. Ika mengejarnya sambil melemparkan kutukan-kutukan membabi-buta.

“Ruang kepala sekolah sekarang!!!”James dan Remus bersamaan. Mereka langsung berlari kencang ke arah sekolah. Dan harus berhenti tiba-tiba saat mendengar gelak tawa Ika dan Weez.

Mereka kesal setengah mati melihat dua cewek tersebut terpingkal-pingkal sambil mengeluarkan air mata. “Jameeeees apakah kita akan biarkan mereka mengerjai kita,”bisik Remus gemas.

James memandang sahabatnya yang berhati lembut ini tak percaya.

“Apa?!?! Hey, setiap orang punya batasan. Bahkan Ika sendiri punya garis keras yang tak boleh dilewati oleh Weez sekalipun. Kau pikir aku tidak bisa kesal?” Remus berujar dengan berapi-api.

“Mungkin sebaiknya kita biarkan mereka menang kali ini saja.”

“Remus tolong aku. Meski aku sudah berjanji tak akan mengungkitnya lagi. Tolong jangan buat aku lupa pernah melihatnya menangis,” James mengedipkan matanya pada Remus.

Remus mengangguk senang. “Kau benar James, lagi pula semua ini setimpal buat menyelamatkan kebakaran hutan,”

“Sekaligus menyelamatkan para hewan “tak berdaya” di hutan atau bahkan lapangan Quiditch ini tetap berdiri,” tambah Sirius.

“Anggap saja kita baru menyelamatkan Hogwarts dari kehancuran,”ujar Remus bangga.

Yup, sekaligus menyelamatkan Asrama dari kehilangan keeper handal. Dan ingat tak ada yang lebih menyenangkan selain mengalahkan Ika tahun depan di lapangan,” Lalu mereka tersenyum bersama. Sambil meninggalkan dua sahabat yang masih terpingkal-pingkal menertawai mereka.

Tentu saja semua alasan yang diungkapkan mereka benar. Tapi ada satu hal yang tak berani mereka ucapkan bahkan pikirkan. Mereka lebih baik menghadapi pangeran kegelapan secara langsung dan mati secara terhormat daripada harus bertarung dengan cewek-cewekitu. Menang belum tentu, kalau kalah bahkan kematian tak akan bisa menghapus rasa malu mereka.

“James, aku dengar mulai tahun depan pertandingan Final Quiditch akan dilakukan setelah ujian akhir bukan sebelumnya seperti sekarang,”Remus membuka pembicaraan mencoba mengalihkan perhatian mereka dari cekikikan Ika dan Weez di belakang mereka.

Part 8 : Missing in Action

Posted in Tak Berkategori on Nopember 6th, 2009 and

BY : Madame Penyu

Senin pagi yang membosankan! Weez harus menyeretku keluar dari selimut. “Aduh!!! Ya ampun Weez kenapa sih, kasar banget,” protesku.

“Cepat nanti kita terlambat,” teriaknya.

“Aku tak pernah tahu, kalau kau sangat tertarik dengan……..,” mataku sibuk mencari jadwal pelajaran diantara tumpukan buku yang berceceran di lantai. “Herbology?!?!” sambungku bingung.

“Oh, bukan itu, hari ini jadwal latihan Quiditch,”celoteh Weez bersemangat.

“Whaaaaat?!?! bukankah kalian sudah menang. Dan ini minggu tenang sebelum ujian, Tidakkah energi kalian sebaiknya dipersiapkan buat belajar,”sanggahku.

“Oh, tolonglah Hestia. Kau terdengar sangat membosankan.”Belum sempat aku membantah Weez sudah meluncur turun dari tangga. Tiba-tiba aku teringat tentang kejadian siang kemarin di danau.

“Weez,” aku berteriak sambil meraih tangannya. Weez berhenti lalu terlihat tak sabar menunggu kalimat berikutnya.

Mmm…. kalau kau mendengar Sirius mengatakan sesuatu tentangku. Maukah kau berjanji mengatakannya padaku? Meski ia memohon untuk tak boleh mengatakannya padaku,”ujarku gugup.

“Tenang sobat, aku bahkan akan tetap mengatakannya padamu meski kami mengucapkan unbreakable vow,”jawabnya mantap.

“Oh Weeez, kau memang sahabat sejatiku,”kontan aku langsung memeluknya dan menciumi pipinya. Jengah dengan ulah konyolku ia medorongku keras ke belakang membuatku kembali terpelanting ke atas tempat tidur.

“Aku tunggu kau di ruang rekreasi 10 menit jika belum siap juga aku tinggal,” ancam Weez saat meluncur turun ke bawah.

“Hai James, jam berapa nanti kita bermain,” sapa Weez ketika ia melihat James dan kawan-kawan masih berada di ruang rekreasi menunggu Remus Lupin yang masih sibuk menyiapkan buku-buku pelajaran.

“Jam tiga, Kenapa kau cepat sekali siap?” jawab James sambil melirik ke arah kamar anak perempuan.

“Aku bangun lebih pagi,” Weez berusaha menjelaskan.

“Ooo, kupikir kau setengah laki-laki,”ledek James. Dan mereka semua tertawa. Lalu asyik membahas taktik mempertahankan piala asrama tahun depan. 15 menit pun berlalu cepat.

“Jenggot Merlin apa sih, yang membuatnya sangat lama? Hestiaaaaaaaaaaa, kuhitung sampai 20 jika kau belum turun juga. Aku tak akan memberitahumu apa yang baru saja Sirius katakan padaku,” teriak Weez.

“Weez tungguuuuuuu, aku sudah siaaaaaaa………………….” sambil meluncur di pegangan tangga. Saat kakiku meluncur tepat di lantai di sana mereka semua berdiri lengkap.

I know that will work,”ucap Weez sambil berjalan santai meninggalkanku terpaku kikuk.

“Selamat pagi Hestia,” ujar mereka bersamaan. Aku benci sekali senyum mereka.

Catatan kecil kegiatan siang ini. Culik Weez bunuh dia, lemparkan mayatnya ke danau hitam. Lalu bunuh diri minum racun jamur karang laut Hindia Selatan.

——————————————————————————————————————

“Weez tungguuuuuuu,” Ika berlari mengejar.

“Aku tak melihat Hestia sarapan. Dimana dia?”

“Mungkin masih shock,”jawab Weez sekenanya

“Weezer, kau tak mengerjainya, kan? Apa yang kau perbuat?”selidik Ika.

Weez menghentikan langkahnya lalu menatap Ika dengan serius. “Please, hentikan drama ini. Sudah cukup satu Drama Queen dalam hidupku, Oke!”

“Mengertilah Weez, ia sedang dilanda asmara. Kau tahukan cinta itu bisa membuat orang berubah,”celoteh Ika.

“Kau juga pernah jatuh cinta dan tergila-gila kepada Regulus. Tapi kau tak berubah. Kau tetap Ika yang aku kenal dan kita tetap bisa bersenang-senang,”bantah Weez

“Kapan terakhir kali kita becanda dan menjaili Flich? Atau sekadar berendam di kamar mandi prefek sambil menikmati butterbeer? Dia memang berubah, berubah menjadi sinting!” Weez mengatakannya dengan satu tarikan nafas. Kalau saja kalimat tadi tak berhenti Ika yakin Weez akan pingsan.

“Mari kita cari dia? Setidaknya membawakannya sesuatu untuk dimakan. Aku masih punya biskuit.” ajak Ika.

“Kau benar-benar mengkhawatirkannya atau hanya cari-cari alasan membolos.”

“Dua-duanya,”Ika cengengesan.

“Sepanjang sejarah sekolah ini berdiri, kau satu-satunya siswa Ravenclaw yang membolos kelas dengan rekor detensi terbanyak pula. Hebat Rowena pasti bangga,”sindir Weez.

“Terima kasih,”Ika menanggapi dengan senyum lebar yang tulus. Seolah itu sebuah penghargaan Order of Merlin tingkat satu.

No problem, anytime,”Weez membalas ketus.

“Ayolah Weez, hanya orang gila yang menyukai Arithmancy senin pagi,” rengek Ika.

“Kalau begitu seluruh Ravenclaw gila dan hanya kau yang waras,” kini Weez melayangkan kepada segerombolan murid Ravenclaw yang sedang membahas mata pelajaran Arithmancy dengan berapi- api.

“Yah, aku benci mengecewakanmu. Tapi mereka memang gila,”Ika melambaikan tangan pada teman-teman satu asramanya sambil tersenyum.

“Tak bisa Ika, aku tak ingin mengacaukan hari ini dengan detensi.”

Ah, iya jatah Gryffindor menggunakan lapangan,”potong Ika.

“Tapi bagaimana kalau dia memutuskan mengakhiri hidupnya,”sambung Ika terdengar luar biasa panik.

“Kalau itu bisa mengakhiri penderitaannya dan membuatnya bahagia. Sebagai teman yang baik aku tak akan mencegahnya,” balas Weez dengan gaya bicara yang sok bijak.

“Mmm yaah aku rasa kau ada benarnya,” Ika menanggapi dengan gaya yang tak kalah bijak.

“Kalau begitu, kita sepakat hari ini tidakk akan membolos!” Weez mempercepat langkahnya.

“Tapi Weez, gawat kalau sekolah ini punya dua Myrtle Merana. Kita akan kesulitan mencari kamar kecil,”kali ini Ika mencerocos dengan nada yang terdengar nyaris paranoid.

“Usaha yang bagus Ka, bye,” kali ini Weez berlari kencang menuju rumah kaca meninggalkan sahabatnya sendirian di koridor.

————————————————————————————————————-

“Saya tak melihat Hestia di kelas ini. Tadi pagi saya mendapat laporan ia tak juga berada di kelas Proffesor Sprout. Dan, tak ada laporan dari Madam Pomfrey ada siswa yang sakit hari ini. Ada yang tahu dia dimana?” Tanya Mcgonagal kepada seluruh kelas sambil memandang satu-persatu murid Gryffindor.

Pandangan matanya berhenti kepada Weez. “Ms Weezer, mungkin Anda tahu?”

“Apakah ada laporan dari Flich kalau kita sekarang punya dua Myrtle Merana di sekolah ini?”tanya Weez polos. Seluruh keras cekikikan menahan tawa.

Mulut Mcgonagal mengerucut “Kau pikir ini lelucon Ms Weezer? Kau pikir seorang siswa melakukan pelanggaran adalah lucu. Tidak pernah sepanjang aku mengajar, Gryffindor melakukan banyak sekali pelanggaran. Dan sepanjang sejarah yang aku tahu dilakukan oleh siswa perempuan.” Mcgonagall memelototi Wezz.

“Kalau begitu dia baik-baik saja,” Weez menyambung pembicaraan dan dia terlihat lega. Seluruh kelas tertawa terbahak-bahak. Mcgonagall harus mengetuk meja keras-keras menghentikan keributan kelas.

“Remus usai pelajaran kau cari Hestia. Suruh dia langsung menemuiku,” perintah Mcgonagall yang langsung dijawab dengan anggukan.

“Aku bisa menceknya di kamar tidur, mungkin ia masih berbaring tak enak badan.”

“Terima kasih Lily, Oh, dan kau Sirius, pergi temui Madame Pomfrey sekarang. Kau terlihat sangat pucat. Apakah kau sakit?” Mcgonacal menghampiri Sirius dan terlihat khawatir.

“Tidak Proff aku baik-baik saja,”sanggah Sirius cepat-cepat. Sirius langsung pura-pura sibuk konsentrasi kepada buku pelajaran menghindari tatapan tajam Weez dan yang paling ia kesal suara cekikikan Remus dan James.

“Baiklah kalau kau yakin. Sekarang kita akan belajar menghadirkan benda yang tidak ada di ruangan ini,” Lanjut Mcgonagal.

“Ms Weezer, kau yang pertama kali mencoba!”

———————————————————————————————————————–

“Butuh bantuan Remus?” James menawarkan jasanya.

“Tentu saja James,” mereka lalu membuka peta perampok dan mulai mencari nama Hestia.

“Dia tak ada di gedung sekolah,” ujar mereka bersamaan.

“Aku akan ke alua besar untuk makan siang. Tenang saja akan aku bungkuskan kalian pai daging, Jaga-jaga kalau kalian belum kembali juga saat makan siang berakhir,” ujar Sirius acuh tak acuh.

James geleng-geleng kepala melihat ulah temannya. Lalu menatap Remus.

“Mungkin kalian ingin mencek danau, Cari di dekat semak-semak.”saran Sirius sekenanya. Lalu berjalan menuju arah aula.

Sekarang Remus dan James saling bertatapan.

“Kenapa kau tak mencegahnya,”semprot James kepada Remus.

“Sudahlah biarkan dia,” Remus lalu berjalan bergegas ke arah danau yang diikuti James. Selama perjalanan menuju danau mereka berpapasan dengan Hagrid.

“Hai James, hai Remus,” sapa Hagrid.

“Hallo Hagrid, Bagaimana kabarmu?” Remus menyapa balik dengan sopan.

“Aku baik, saat ini sedang menjalankan tugas penting dari Dumbledore,” Hagrid lalu membungkukkan tubuhnya dan bicara setengah berbisik.

“Dumbledore menyuruhku mencari Hestia di hutan terlarang. Ini rahasia. Dumbledore tak ingin membuat semua orang panik.” Hagrid membelalakkan matanya menegaskan kalau yang baru saja disampaikan memang rahasia.

“Proffesor Mcgonagall juga menyuruh kami mencarinya. Dia tak ada di dalam gedung sekolah. Kami baru akan mencarinya di danau,” James menjelaskan.

Oh, tak perlu James, aku juga baru dari sana. Aku sudah menyisir danau dua kali tapi tak ada disana dia. Dumbledore bilang cari dulu di danau, jika tak ketemu dia pasti ada di sekitar hutan terlarang. Aku sebaiknya segera kesana. Aku tak mau terjadi apa-apa terhadapnya. Dia anak baik. Ayahnya juga sangat baik. Ayahnya dulu prefek Ravenclaw waktu aku baru masuk Hogwarts. Hestia memang sedikit aneh tapi kurasa ia sangat tertarik dengan binatang. Kalau tahu maksudku? Oke sampai ketemu nanti,” Hagrid pergi meninggalkan mereka.

James dan Remus bengong tak mengerti. Mereka tak pernah melihat Hestia tertarik pada pelajaran satwa liar. Bahkan selalu menolak berdekatan dengan satwa liar. Remus bersumpah pernah melihat Hestia bermain kartu muggle saat pelajaran Arithmancy dengan Dolores. James dan Sirius berkali-kali memergokinya membolos pelajaran Sejarah Sihir. Dan James harus setengah mati menahan tawa melihat Hestia saling melempar kutukan dengan Wezz dipelajaran Astronomi. James dan Remus yakin Hestia tak pernah tertarik dengan apapun kecuali rambutnya dan Sirius.

———————————————————————————————————

“Tidak James kau tak berpasangan dengan Lily. Peter kau bersama Miss Evan dan James kau dengan Miss Flamel,” ucap Slughorn sambil sedikit menunduk saat mengucapkan kata Flamel. Dan James yakin dia mengucapkan dengan nada paling lembut yang pernah James dengar.

“Baiklah kelas,” Slughorn mengetuk meja meminta perhatian. “Satu orang menyiapkan kuali dan peralatan. Yang lain mengambil semua bahan yang dibutuhkan di lemari,”lanjut Slughorn.

“Kau yang menyiapkan peralatan, aku yang ambil bahan,”ucap Hestia tegas dengan nada sedikit memerintah. Kalau saja James tak ingat Hestialah yang memberikan penawar saat ia tanpa sengaja menelan ramuan cinta Clara. Ia pasti dengan sangat senang hati memantrai rambut hitam pekat Hestia menjadi hijau lumut berlendir.

“Kita tak butuh benzoat buat ramuan Felix Silicis Ms Weezer. Kembalikan!” perintah Slughorn yang disertai cekikikan Sirius. Pasti menyenangkan berpasangan dengan Weez dan membantunya mengosongkan lemari Slughorn.

Saat semua masih sibuk menacri bahan-bahan yang dibutuhkan. Hestia sudah kembali ke meja. Yang paling bikin James kesal, bukan membantunya ia malah sibuk sendiri  menata bahan-bahan tersebut. Mengurutkan dengan cara yang tak dimengerti James. Hestia berkali-kali memukul tangan James ketika menyentuh bahan tersebut dan tanpa sengaja mengembalikannya tidak ke tempat semula.

Oh, Ms Flamel fantastis, Anda mengumpulkan dengan cepat dan benar. Ah, dan mengurutkannya sesuai bahan yang akan digunakan lebih dulu mengagumkan. Nampaknya aku tak perlu membimbingmu membuat ramuan ini. Pasti kakekmu sudah pernah mengajarinya,”puji Slughorn sambil memberikan courtesy. Hestia hanya tersenyum kikuk. Dari tatapan matanya, James yakin Hestia ingin sekali menelan Slughorn hidup- hidup.

Sepanjang pelajaran James hampir kehabisan kesabaran. Hestia selalu saja menyerahkan tugas kotor pada James. Memotong, memeras, menggiling bahkan hingga menyalakan tungku. Sebagai pria sejati ia terpaksa tak berkata apa-apa. James bahkan geli sendiri melihat Hestia berkali-kali akan muntah jika ramuan di tungku  mengeluarkan bau yang khas.

“Ms Evans kau berhasil! warnanya sempurna,” teriak Slughorn sambil bertepuk tangan. Mendengar itu Hestia seperti tersedak. Dia terdiam mematung dengan mata nanar memandang meja Lily.

“Oke 50 angka buat Griffyndor dan 50 angka lagi buat Slytherin. Severus kau juga hebat. Kau hanya kalah 10 detik dari Lily.” Seluruh kelas bertepuk tangan kecuali Hestia yang tetap mematung. James bahkan harus memindahkan tangan Hestia dari kuali saat ia sadar ramuannya sudah matang dan berwarna mirip dengan ramuan Lily.

“Dan, ya Ms Flamel. Apa yang bisa ku harapkan dari cucu seorang alkemis hebat. Sempurna!” Slughorn menengok dan mengetes ramuan di meja. “Pasti kakekmu selalu menekankan sikap teliti,” Slughorn mengedipkan matanya.

“Kau lihat, tingkah Hestia tadi di kelas,” James membuka pembicaraan kepada teman-temannya usai kelas ramuan. “Dia terlihat sangat kesal saat Lily berhasil. Aku heran dia selalu bertingkah muak dengan perlakuan Slughorn di kelas. Tapi luar biasa kesal jika kalah dari Lily. Kenapa sih, cewek itu begitu terobsesi menjadi yang terhebat di kelas ramuan. Jelas-jelas dia membenci pelajaran tersebut.”

“Iya James aku juga sangat heran Hestia begitu terobsesi menjadi yang terpintar di kelas Slughorn?” Sirius menanggapi sambil menempelkan kartu coklat kodok bergambar Nicholas Flamel ke jidat sahabatnya.

————————————————————————————————————————

“Lalu apa yang kita lakukan sekarang?” James bertanya kepada Remus.

“Kalau kita kembali ke aula besar sekarang mungkin masih belum ketinggalan makan siang,”Remus menjawab dengan santai.

“Tidakkah sebaiknya kita membantu Hagrid?” James terlihat bersemangat.

“Kurasa tak perlu, Tak ada yang mengenal hutan terlarang seperti Hagrid. Ia pasti mampu menemukan Hestia dalam waktu singkat,” Remus berjalan santai ke alua. James melenguh kesal.

————————————————————————————————————————-

“Weez aku tak dapat menemukan Hestia di kamar, perpustakaan atau ruangan manapun di Hogwarts,” ujar Lily terengah-engah menghampiri Weez yang sedang menikmati jus labu dan kentang goreng.

“Tenanglah dia baik-baik saja.”

“Berarti kau tahu dimana dia?” tanya Lily lega.

“Tidak!” balas Weez tegas.

“Aku mulai khawatir, sudah kau tanyakan pada Ika mungkin dia tahu?” pinta Lily sambil meremas-remas jemarinya.

“Sudahlah Lily, Aku kenal baik dengannya. Dia hanya tak ingin ditemukan. Dia pasti bersembunyi suatu tempat. Lagipula jika ia di culik pelahap maut sekalipun, aku justru khawatir terhadap penculiknya,”kelakar Weez.

Lily bengong tak percaya dengan apa yang disampaikan Weez. Saat bersamaaan ia melihat Remus masuk ke alua besar dan James berhenti di meja Ravenclaw berbicara dengan Ika.

“Remus aku tak menemukannya di mana-mana. Sudah kau temukan dia?” Lily langsung menyerbu ke arah Remus serta menggeser duduk Sirius agar dia bisa duduk diantara Remus dan Sirius. Remus hanya menggeleng. Lily menghela nafas panjang.

“Tapi Hagrid sedang mencarinya di hutang terlarang,” Remus menjelaskan.

“Hutan terlarang?!?! Apa yang dilakukannya sendirian di sana? Bagaimana kalau terjadi sesuatu?” Lily hampir histeris.

“Kalau kau begitu khawatir terhadapnya kita bisa mencarinya bersama LiLy,” James menawarkan bantuan.

“Aku lebih baik meminta troll menemaniku mencarinya. Permisi!”jawab Lily ketus dan pergi meninggalkan James dan teman-temannya.

“Apakah ada duyung di hutang terlarang?”tanya Sirius tiba-tiba. Remus dan James berpandangan tak mengerti.

“Sebaiknya kau menuruti saran Proffesor Mcgonagall menemui Madam Pomfrey sekarang,”saran James serius.

Part 7 : Impas

Posted in Tak Berkategori on Nopember 5th, 2009 and

BY : Madame Penyu

Butuh tenaga ekstra keluar dari ruangan Dumbledore. Hari ini tenagaku seolah tersedot keluar semua. Bahkan kalori yang didapat dari teh rasa peach dan bolu kuali seolah hilang menguap. Kaki ini rasanya membatu. Melangkah saja susah sekali. Anehnya selera makan pun lenyap. Nampaknya otak ini terlalu letih hingga tak sanggup lagi mengirim sinyal lapar ke perut.

Tak perlu berpikir dua kali untuk mengurungkan niatku makan siang. Ini adalah saat yang paling tepat menghabiskan waktu sendirian di danau hitam. Tak akan ada yang mencariku. Ika dan Weez akan berpikir aku makan siang bersama kakekku di hogsmeade atau menara astronomi. Begitu juga kepala asrama Gryffindor.

Siang hari begini danau akan sepi. Sesampainya di sana dugaanku tepat tak ada siapa-siapa. Kukeluarkan tongkat sihirku, 40 cm kayu mawar hitam dan sirip duyung. Perlahan kuketuk permukaan air danau. “Veni Ventum Quirky,”ucapku tanpa menggerakkan bibir.

Aku sudah bisa mengucapkan mantra tanpa mengerakkan bibir sejak tahun pertama di Hogwarts. Kalau kau terlahir di keluarga yang tepat dan kebetulan berteman dengan penyihir hebat sepanjang masa. Kau akan beruntung memiliki partner sekaligus mentor duel sekelas Albus Dumbledore. Dan mengucapkan mantra tanpa menggerakan bibir merupakan keahlian yang wajib dimiliki jika ingin bertahan paling tidak tiga menit berduel dengannya. Sebelum kau kalah total.

Muncullah seekor duyung namanya Quirky. Kemudian kami berbincang-bincang dalam bahasa duyung. Tidak, kali ini bukan Dumbledore yang mengajariku. Aku belajar sendiri.

————————————————————————————————————————

Umurku tujuh tahun ketika aku menyelamatkan seekor duyung di tepi karang dekat rumah. Aku memberikan sejenis tanaman sirih berdaun jingga ke sirip yang luka. Tanaman itu didapat ayahku dari dataran Asia Tenggara, sebuah pulau bernama Jawa. Menurut ayahku, sirih jingga tersebut itu tamanan yang berkhasiat menyembuhkan 100 macam luka sihir. Ayahku juga membawa sejumlah ganggang laut dari perairan pacific dan jutaan serangga lainnya.

Aku memetik selembar daun yang paling besar yang bisa aku temukan di rumah kaca. Berlari kembali ke karang, menempelkan pada bagian yang terluka. Ayahku benar, tanaman ini luarbiasa. Lukanya sembuh seketika. Semenjak itu kami menjadi sahabat dekat sepanjang musim panas. Sebagai ucapan terimakasih ia mencabut selembar sisik keperakan lalu diberikan kepadaku.

Duyung perempuan itu bernama Itsbel. Aku mempelajari bahasanya dengan mudah. Semudah aku mempelajari bahasa goblin hanya dengan sering menguping pembicaraan mereka di bank.

Saat masuk Hogwarts aku sudah menguasai bahasa duyung, goblin dan parsletongue. Yang terakhir aku tak tahu bagaimana bisa menguasainya. Setidaknya bahasa yang lain aku belajar, mendengarkan dan memahami polanya. Tak ada yang tahu aku menguasai banyak bahasa dan aku tak berniat memberitahu siapa-siapa?

Pasalnya, menjadi bagian keluarga Flamel yang hebat dan akademisi wahid. Orang tua kami bisa sangat menyebalkan. Jika kau ketahuan menguasai suatu bidang atau paling tidak tertarik dalam suatu bidang. Maka, esok harinya orang tuamu sudah menyiapkan rencana masa depanmu. Mereka sudah mempersiapkan jenjang karirmu hingga 20 tahun ke depan.

Ayahku mendapatkan rumah kaca pertamanya saat usianya 6 tahun. Bahkan kakekku sudah jatuh cinta terhadap ilmu ramuan sejak pertama kali bisa mengucapkan kuali. Tunggu dulu kalau tidak salah itu kata pertama yang dia ucapkan ketika bayi.

Mungkin ayah dan kakekku akan membuat sebuah taman margasatwa mini di hutan kecil dekat rumah kami dan memenuhi dengan beragam binatang mistis jika ia mengetahui aku bisa bicara dengan mereka. Lalu secara rutin akan mengundang para pengawas satwa liar dari kementerian sihir makan malam hanya agar bisa bercakap-cakap denganku.

Aku ingat saat pertama kali aku tertarik pada bintang. Usiaku belum genap enam tahun. Esok harinya ayahku membelikanku sebuah teleskop bintang besar seperti yang dimiliki Hogwarts. Plus 50 buku astronomi anak-anak.

Melihat senang akan hadiahnya ia mengundang Proffesor Storcky dari Drumstrang menghabiskan liburan musim panas di rumah kami. Dapat ditebak, aku menghabiskan malam-malam panjang mempelajari bintang bersamanya.

Tapi masalahnya aku mudah tertarik dalam banyak hal dan parahnya cepat sekali bosan. Sekarang teleskop itu terongok begitu saja di menara timur puri kami. Hanya Weez yang menggunakan sesekali jika ia berkunjung ke rumahku.

Kenapa aku tak bisa punya orang tua normal seperti Weezra dan seorang Abang atau adik kecil. Mataku terasa perih mendengar kata abang.

————————————————————————————————————————

Aku sudah tak tahu Quirky bercerita apa? Aneh, aku datang untuk berbincang dengannya. Sekarang aku malah asyik melamun sendiri.

Aku mencoba kembali menyimak Quirky dan mendengarkan ceritanya saat ia mengunjungi pamannya di laut Kaspia. Petualangannya bertemu Ophel dan memenangkan hatinya. Ah, bahkan seekor duyung punya kekasih.

Tiba-tiba aku merasa ada yang mengawasiku dari belakang. Hembusan angin yang mengerakkan daun di belakangku terdengar berbeda. Aku bisa membedakannya, kalau boleh dibilang aku terlatih membedakannya.

Tak ada yang boleh tahu aku bercakap-cakap dengan duyung. Tak ada!!! Aku tak mau seharian diberondong pertanyaan Weez yang menuntut kenapa aku tak pernah bercerita padanya, kalau aku menguasai bahasa duyung.

Bukan bahasa duyung yang aku takut ia ketahui. Kalau aku mengatakan pada dua sahabatku aku bisa bahasa duyung. Maka aku akan terpaksa membongkar rahasia lain yaitu bahasa goblin, bahasa burung, dan phoenix. Yang terparah mengakui kalau aku bisa bahasa ular.

Hanya penyihir hitam yang menguasai bahasa itu. Mengingat pelajaran yang mudah kukuasai adalah ilmu hitam, jangan-jangan aku adalah penyihir hitam. Kalau benar aku terlahir sebagai penyihir hitam. Ini akan jadi aib keluargaku. Aku tak akan sanggup menghadapi kekecewaan mereka. Tiba-tiba aku menyesal tak terlahir sebagai squib.

Dengan lembut aku mengatakan pada Quirky untuk langsung menyelam ke dasar danau jika aku mencabut tongkatku.

“Coarguo,” ujarku mantap sambil menyibak semak di belakangku. Gerakanku begitu cepat hingga seseorang yang berdiri di belakang semak tak akan menyangka aku menyerangnya. Semak-semak itu pun tersibak layaknya tirai dihembus angin. Dia berdiri di sana terpana dan aku tak tahu siapa yang lebih terkejut. Dia atau aku.

Aku tak mengubah posisi berdiriku. Dengan gerakan tubuh siap berduel. Dia diam, kaku dan menatapku tak percaya. “Jenggot Merlin, angkat tongkatmu dan berkelahilah denganku,” batinku memohon.

Darah mengalir deras disekujur tubuhku. Aku akan langsung menyerang jika ia membuat satu gerakan saja. Ya, hanya satu gerakan. Beri aku alasan bagus menghajarmu. Tapi Ia hanya menatapku tajam dan tak membuat gerakan apa-apa.

Aku tahu ia tak akan mengangkat tongkatnya meski aku menyerangnya saat ini. Tapi aku berharap ia melakukannya. Aku Ingin sekali menghajarnya. Aku ingin kami berduel sekarang. Tapi yang kami lakukan hanya saling mematung. Aku dengan kuda-kuda penuh dan dia berdiri dengan posisi tak terjaga. Sekali serangan saja aku bisa saja melumpuhkannya bahkan membunuhnya.

Dengan mantap aku mengayunkan tongkatku perlahan, lalu menyimpannya di balik jubahku. Suasana tegang pun mencair. Akhirnya ia membuka suara memecahkan keheningan kami.

“Kau bisa berbicara bahasa duyung, bagaimana mungkin? Maksudku kapan kau mempelajarinya dan siapa yang mengajarimu” ujarnya takjub.

“Kurasa dengan siapa aku bicara bukan urusanmu Mr Black,” jawabku sopan sambil membungkukkan tubuhku memberi hormat. Selayaknya aku berhadapan dengan pria bangsawan. Wajah Sirius merah padam. Aku tidak tahu mana yang lebih mengesalkannya. Panggilan Mr Black atau cara aku membungkukkan tubuhku.

“Namaku Sirius, cukup panggil aku dengan itu. Kau mengerti!” ujarnya geram. Aku menanggapinya dengan tersenyum supermanis. Sebuah senyum diplomatis yang selalu aku tampilkan saat jamuan makan malam di rumah. A Courtesy of all Flamel female in family. Senyum yang secara turun menurun diwariskan dari buyutku, nenekku, ibuku dan sekarang aku.

Kemudian aku membalikkan badan dengan anggun dan berjalan menjauh darinya. Aku dapat merasakan ia masih menatap punggungku lekat-lekat.

Butuh seluruh keberanian dalam diriku untuk tidak menengok ke belakang. Ketika yakin jarakku aman. Perlahan aku pura-pura membersihkan sepatuku sambil melirik ke arah danau. Dan Ia di sana mematung dengan tatapan lurus ke arah danau.

Nah, sekarang kau tahu rasanya. Kita impas.”